Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Suyoto meminta Gubernur Jatim memasok beras, baik beras lokal maupun impor, untuk mengantisipasi menipisnya stok beras di daerah setempat.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bojonegoro, Bambang Suharno, Minggu, mengatakan, permintaan pasokan beras tersebut disampaikan langsung kepada Gubernur Jatim Soekarwo seusai rapat koordinasi ketersediaan pangan beberapa hari yang lalu.
Pada intinya, lanjutnya, Bojonegoro membutuhkan pasokan beras, sebab stok yang ada di daerah setempat mulai menipis dan harga beras sudah mencapai Rp8.000/kg.
Tingginya harga beras tersebut, menimbulkan keluhan di kalangan masyarakat yang disampaikan langsung kepada Bupati Bojonegoro Suyoto melalui telepon.
"Stok beras di Bulog Divre II Bojonegoro sudah menipis, tinggal ratusan ton, sehingga tidak mencukupi lagi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Bojonegoro hingga beberapa hari ke depan," katanya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, katanya, di Jatim, sudah ada beras impor yang masuk. Namun ia mengaku belum tahu kapan beras tersebut didistribusikan ke daerah.
"Kami tidak mempermasalahkan yang dipasok ke Bojonegoro beras impor atau beras lokal, yang penting ada pasokan beras," katanya menegaskan.
Diharapkan, dengan adanya pasokan beras, bisa menekan harga beras agar tidak terus merangkak naik dan masyarakat terutama di pedesaan bisa dengan mudah mendapatkan beras..
Bambang berpendapat, harga beras di Bojonegoro kemungkinan masih bisa dikendalikan harganya, sambil menunggu panen tanaman padi pada Oktober yang luasnya 6.361 hektare.
Diperhitungkan, panen tanaman padi tersebut menghasilkan sekitar 31.805 ton gabah kering sawah (GKS) atau setara 15.902,5 ton beras.
"Kalau tidak ada pasokan beras, kami berharap dengan adanya panen padi Oktober di Bojonegoro tersebut, harga beras bisa turun," ucapnya.
Menghilangnya beras lokal Bojonegoro itu, memaksa sejumlah pedagang beras di Bojonegoro mendatangkan beras produksi Cirebon, Jabar, Delanggu, Yogyakarta, dan Pati, Jateng.
Menurut seorang pedagang beras, Waris, pihaknya mulai kesulitan mendapatkan beras lokal Bojonegoro dan Tuban sejak bulan Ramadhan lalu.
Ia sudah mendesak kepada Bulog Divre II Bojonegoro untuk memasarkan stok beras yang masih dimiliki. "Kata petugas Bulog, mereka juga menunggu beras impor yang katanya sudah masuk ke Jatim dengan alasan stok beras Bulog sudah menipis,," ujarnya.
Karena itu, lanjutnya, dirinya kemudian mendatangkan beras produksi Cirebon, sejak awal September lalu dengan harga pembelian Rp7.500/kg dengan jumlah 16 ton/harinya.
"Kalau tidak ada pasokan beras impor, harga beras tetap akan terus naik," katanya memperkirakan.
Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.