Nganjuk - Puluhan warga muslim di Kelurahan Payaman, Kecamatan Kota, Nganjuk, Jawa Timur, Rabu menggelar shalat sunat muntaqo sebagai pertanda berakhirnya puasa sunat di bulan Syawal dan Lebaran 1432 Hijriah. Muhammad Syafi'i, salah seorang tokoh masyarakat di desa itu,. Rabu, mengatakan kegiatan ini rutin dilakukan dan seluruh warga berkumpul di masjid untuk shalat bersama dan menyantap ketupat. "Kegiatan "Kupatan" sebagai salah satu wujud syukur atas nikmat Tuhan dengan diberikan rejeki. Kami tiap tahun berkumpul di masjid bersama-sama shalat dulu lalu makan ketupat," katanya. Ia mengatakan, tradisi ini sudah dilakukan turun temurun oleh warga setempat. Warga juga biasa menyebut dengan sebutan "kupatan" yang di dalamnya salah satu rangkaiannya adalah makan ketupat yang disediakan lengkap dengan sayur dan lauknya. Selain sebagai wujud syukur, kegiatan ini juga untuk menjalin tali silaturrahim antarwarga. "Kegiatan seperti ini untuk menjalin tali silaturrahim antarwarga. Di tempat ini, kami dapat berkumpul, bersalaman, dan makan bersama," ucapnya. Sebelum makan ketupat, kata dia, warga menggelar shalat sunat muntaqo yang dilanjutkan dengan shalat dhuha. Shalat itu masing-masing dilakukan dua rakaat. Setelah shalat, warga juga menggelar kegiatan tahlil yang juga dimpin imam masjid setempat. Warga mengikut acara itu dengan khusyuk. Ia juga menyebut, tradisi ini diharapkan dapat terus dilestarikan dan dilakukan oleh warga setempat. Tentunya, segala amal baik akan mendapatkan balasan yang baik dari Tuhan. Terlebih lagi, kegiatan ini juga dilakukan setelah puasa sunat enam hari di bulan Syawal, yang diharapkan dapat memberikan berkah dan dibebaskan dari api neraka. "Kalau kami berharapnya yang baik, bisa diberkahi, dibebaskan dari api neraka. Kami yakin, jika berbuat baik, Tuhan juga akan membalas dengan kebaikan," ucapnya. Nur, salah seorang warga yang ikut dalam acara itu mengaku selalu menyempatkan diri untuk ikut shalat dan makan ketupat bersama-sama dengan warga lainnya. Dengan itu, ia merasa lebih nyaman dan senang, daripada shalat dan makan ketupat di rumah. Ia menilai, kebersamaa dengan warga lainnya sangat berharga. "Yang penting, kebersamaan di antara kami tidak akan pernah luntur. Kalau tidak pas kegiatan seperti ini, kami jarang berkumpul bersama," ucapnya.


Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026