Pasuruan – Kondisi Usaha Peternakan Aliansi (UPA) di Desa Sumberrejo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, memprihatinkan, sapi-sapinya kurus karena kekurangan nutrisi.
Rusdianto, salah seorang karyawan yang ditemui Kamis, menyebutkan, jumlah sapiinduk yang saat UPA didirikan pada tahun 2005 sebanyak 250 ekor, kini tinggal 96 ekor, karena banyak yang mati, atau dijual karena majer (tidak produktif lagi).
Sedangkan populasi anakannya (pedet) selama kurun waktu sekitar enam tahun tersebut hanya menghasilkan 116 ekor, yang terdiri jantan sebanyak 50 ekor, dan betina sebanyak 66 ekor.
Sapi-sapi induk, maupun anakannya itu kini kondisinya memprihatinkan, kurus-kurus, karena kekurangan nutrisi. Sapi-sapi di UPA tersebut kinihanya mendapat pakan jerami, tanpa tambahan konsntrat.
Rusdianto mengungkapkan, sapi-sapi di UPA terpaksa hanya diberi pakan jerami, karena produksi rumput yang dibudidayakan diatas lahan 10 hektare sudah tidak mencukupi lagi.
Siklus produksi rumput yang dipanen 200 ikat per hari untuk kebutuhan sapi-sapi di UPA kini sudah tidak bisa dipanen lagi, sehingga harus mencari jerami sebagai pengganti pakan.
Kondisi memprihatinka juga dialami para karyawannya. Sebanyak 21 karyawan yang setiap hari mengelola ternak, sudah tiga bulan belum menerima upah.
Rusdianto menjelaskan, UPA Purwosari yang dibangun tahun 2005, tujuan awalnya merupakan peternakan breeding dengan target memproduksi sapi unggul lokal Pasuruan.
Peternakan pembibitan (breeding) tersebut merupakan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Pasuruan dengan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang, dan Lousiana University AS.
Peternakan breeding yang memanfaatkan sapi indukan lokal, dengan kawin suntik yang menggunakan semen dari Amerika itu ditargetkan hingga keturunan keenam mampu memproduksi sapi unggul lokal khas Pasuruan.
Namun hingga enam tahun berjalan, UAP Purwosari baru mampu memproduksi pedet keturunan kedua sebanyak 116 ekor, sebaliknya sapipopulasi induknya justru terus berkurang.
Rusdiantio juga mengungkapkan, fungsi UPA Purwosari kini juga telah bergeser dari tujuan semula, setelah Unversitas Brawijaya Malang, dan Lousiana University AS meninggalkannya pada tahun 2009.
Status UPA yang semula merupakan perusahaan daerah, mulai September 2010 juga berubah hanya menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) dibawah pengelolaan Dinas Peteranakan Kabupaten Pasuruan.
"Semen" atau sperma untuk kebutuhan breeding di UPA Purwosari tidak lagi didatangkan dari Lousiana University AS, tapi hanya didatangkan dari Balai Besar Insemninasi Singosari Malang.
Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Irsyad Yusuf yang mengunjungi UPA Purwosari, Kamis, menyebut, usaha peternakan yang dikelola Pemerintah Kabupaten Pasuruan tersebut setengah gagal.
Irsyad Yusuf juga mengungkapkan, berdasar LHP BPK, keberadaan UPA Purwosari juga perlu dievaluasi kembali, agar aset Pemerintah Kabupaten Pasuruan tersebut dapat diselamatkan.
Untuk itu Irsyad Yusuf juga mendesak Pemerintah Kabupaten Pasuruan untuk segera melakukan evaluasi terhadap keberadaan UPA Purwosari yang kondisinya sangat memprihatinkan tersebut.
Irsyad menyarakan, UPA Purwoaari perlu direorientasi. Dianjutkan kembali dengan memasok dana segar, atau ditutup.
Diungkapkan, UPA Purwosari yang diubangun tahun 2005 menggunakan dana Rp 10 miliar. Untuk menunjang operasionalnya, Pemerintah Kabuoaten Pasuruan juga masih mensuport dana rutin sebesar Rp 1,2 miliar per tahun hingga tahun 2009.
Namun setelah UPA Purwosari berubah status hanya menjadi UPT, dana operasional tersebut dihentikan. Akibatnya, kondisi peternakan, baik ternak maupun peternaknya sama-sama memprihatinkan.
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.