Surabaya - Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Imarah Wilayah Jawa Timur membantah pagar dan bangunan bambu di Desa Betro, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, yang dirusak warga adalah miliknya.
Juru Bicara JAT Jatim Dzulkarnaen, di Surabaya, Senin, mengatakan pihaknya tidak mau disangkut-pautkan dengan persoalan dan insiden yang terjadi pada Minggu, 17 Juli 2011, karena permasalahan yang terjadi merupakan permasalahan pribadi.
"Kami sudah mengirimkan tim investigasi untuk menyelidiki, dan hasilnya ditemukan bahwa kejadian itu merupakan permasalahan pribadi antara Sutrisno Senggir dengan Ali Imran, serta dengan beberapa warga. Yang pasti tidak ada hubungan dengan JAT," katanya kepada wartawan di rumahnya di Jalan Tanjung Pura, Surabaya.
Meski tidak mengetahui kepastian penyebab perselisihan, namun ia menduga karena adanya perbedaan paham dan pandangan syariat. Selain itu, permasalahan pribadi antarsaudara sepupu tersebut.
Tidak hanya itu saja, Dzulkarnaen juga menegaskan bahwa JAT di pusat dan daerah tidak mempunyai program pendirian bangunan, baik markas, masjid, maupun pondok pesantren, khususnya di Mojokerto.
"Kejadian kali ini sama persis dengan di Masjid Al Ichsan di Sidotopo yang diserbu warga pada Juni 2009. Kami mengimbau kepada umat Muslim agar waspada terhadap upaya adu domba dengan menjual isu terorisme," tukas Dzulkarnaen.
Sementara itu, Amir Wilayah JAT Jatim, Ismail, mengungkapkan Sutrisno terhitung sejak enam bulan lalu sudah bukan termasuk anggota JAT, karena Sutrisno dianggap indisipliner.
"Alasan utamanya itu, yakni indisipliner. Program-program yang sudah ditetapkan, tidak mau dijalankan dan membuat agenda sendiri," terangnya.
Selain itu, pihaknya tidak memberikan instruksi kepada anggotanya untuk mendirikan bangunan berbentuk apapun di kawasan Desa Betro. Karena itulah, ia mengaku tidak bertanggung jawab dengan kegiatan yang dilakukan Sutrisno, terlebih mengatasnamakan JAT.
Sekelompok warga Desa Betro, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojolerto, Jawa Timur, merusak pagar lahan kosong milik salah seorang warga yang diduga anggota Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) dan juga terduga teroris, Minggu (17/7).
Warga menilai jika di lahan tersebut akan digunakan sebagai tempat pembangunan pondok pesantren dan aktivitas lain yang berhubungan dengan teroris.
Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.