Jakarta (Antara) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi bergerak melemah sebesar 35 poin sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), dibuka menguat 8,09 poin.  
 Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi bergerak melemah sebesar 35 poin menjadi Rp13.791 dibanding posisi sebelumnya Rp13.756 per dolar AS.
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Kamis mengatakan bahwa pergerakan dolar AS yang kembali menguat terhadap mayoritas mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah seiring sikap The Fed yang "hawkish".
"Sikap 'hawkish' The Fed itu direspon oleh pelaku pasar dengan melepas sebagian aset di mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia sehingga rupiah mengalami tekanan," katanya.
Di hadapan kongres, ia mengemukakan, The Fed menyampaikan optimismenya terhadap pemulihan ekonomi Amerika Serikat sehingga perlu dilakukan langkah antisipasi dari sisi moneter untuk mencegah overheating ekonomi, yaitu melalui penyesuaian tingkat suku bunga.
Sentimen dari dalam negeri, lanjut dia, antisipasi terhadap rilis data inflasi periode Februari juga cenderung membuat pelaku pasar menahan diri untuk masuk ke aset denominasi rupiah dan cenderung memilih dolar AS.
Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan dolar AS terapresiasi terhadap mata uang global setelah Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan prospek ekonomi Amerika Serikat tetap cerah.
"Pernyataan itu memperkuat kenaikan suku bunga Fed lebih lanjut tahun ini," katanya.
IHSG Menguat
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis dibuka menguat 8,09 poin seiring respon positif pasar terhadap ekonomi domestik.
IHSG BEI dibuka menguat sebesar 8,09 poin atau 0,12 persen ke posisi 6.605,31. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak naik 2,02 poin (0,18 persen) menjadi 1.102,31.
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Kamis mengatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai cukup kondusif menjaga pergerakan IHSG.
"Fundamental ekonomi domestik cukup positif, memicu sebagian investor tetap masuk ke saham meski terbatas," katanya.
Namun, ia mengatakan bahwa sentimen eksternal masih menjadi salah satu faktor yang dapat menahan IHSG lebih tinggi. Pelaku pasar saham masih dibayangi hasil testimoni The Fed yang mengindikasikan adanya potensi kenaikan suku bunga seiring pemulihan ekonomi Amerika Serikat.
Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere menambahkan bahwa sentimen kenaikan suku bunga The Fed direduksi oleh rilis kinerja keuangan emiten dalam negeri yang positif.
"Kepercayaan investor atas fundamental dalam negeri juga relatif baik. Kondisi itu dapat menjaga IHSG," katanya.
Bursa regional, di antaranya indeks bursa Nikkei turun 297,32 poin (1,35 persen) ke 21.755,22, indeks Hang Seng melemah 103,11 poin (0,33 persen) ke 30.741,61 dan Straits Times melemah 19,43 poin (0,57 persen) ke posisi 3.497,77. (*)


Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026