Jakarta (Antara) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu pagi, bergerak menguat sebesar 43 poin, sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), dibuka melemah 9,82 poin.  
Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu pagi, bergerak menguat sebesar 43 poin menjadi Rp13.572 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.615 per dolar AS.
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Rabu mengatakan bahwa nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS, sebagian pelaku pasar yang masuk ke obligasi di dalam negeri menjadi salah satu faktornya.
"Instrumen investasi di dalam negeri masih cukup menarik bagi pelaku pasar sehingga meningkatkan permintaan terhadap rupiah," kata Reza.
Kendati demikian, lanjut dia, apresiasi rupiah relatif terbatas menyusul antisipasi pelaku pasar terhadap pengumuman hasil s pertemuan terakhir Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Pelaku pasar menanti sinyal seberapa kuat kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau The Fed pada Maret mendatang.
"FOMC akan menjadi fokus utama investor, kuatnya sinyal kenaikan suku bunga The Fed dapat mendorong dolar AS kembali terapresiasi," katanya.
Sementara itu, analis Monex Investindo Futures Faisyal menambahkan bahwa dolar AS masih berpotensi mendapatkan katalis positif dari outlook kenaikan suku bunga The Fed serta tingginya yield obligasi di Amerika Serikat.
"Sentimen yang beredar masih cukup dapat mendorong dolar AS terapresiasi. Nada 'hawkish' pada risalah FOMC dapat mendorong minat pasar terhadap aset berdenominasi dolar AS," kata Faisyal .
IHSG
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu dibuka melemah 9,82 poin seiring sebagian investor masih melakukan aksi ambil untung.
IHSG BEI dibuka melemah 9,82 poin atau 0,15 persen menjadi 6.653,05, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 3,81poin (0,34 persen) menjadi 1.118,36.
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Rabu mengatakan bahwa sebagian pelaku pasar masih memanfaatkan sejumlah saham yang harga relatif tinggi untuk ambil untung sehingga IHSG kembali bergerak di area negatif.
"Tekanan jual masih membayangi pasar saham di dalam negeri sehingga IHSG mengalami tekanan," kata Reza.
Kendati demikian, lanjut dia, pelemahan IHSG relatif terbatas menyusul kondisi ekonmi nasional masih cukup kuat, itu terlihat dari realisasi APBN tercatat tumbuh positif pada periode Januari 2018 mencapai Rp101,4 triliun atau 5,3 persen dari target APBN 2018 sebesar Rp1.894,7 triliun, atau tumbuh 14,7 persen dari periode sama tahun lalu.
Sementara itu,Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere menambahkan bahwa kondisi fundamental domestik yang baik diiringi sentimen laporan keuangan emiten yang positif diharapkan dapat membuka peluang bagi IHSG untuk kembali menguat.
"Pergerakkan IHSG masih berpeluang untuk kembali bergerak meningkat," kata Nico Omer.
Bursa regional, di antaranya indeks bursa Nikkei naik 137,43 poin (0,64 persen) ke 22.064,55, indeks Hang Seng menguat 245,17 poin (0,79 persen) ke 31.118,80 dan Straits Times menguat 24,32 poin (0,70 persen) ke posisi 3.500,08. (*)


Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026