Stephens, yang kembali ke kompetisi di Wimbledon setelah hampir absen selam setahun karena cedera kaki, mampu bangkit dari keterpurukan di set kedua untuk mengakhiri harapan unggulan kesembilan Williams mencapai final turnamen utama untuk ketiga kalinya tahun ini.
Ia akan bertemu CoCo Vandeweghe atau Madison Keys, yang berhadapan satu sama lain pada Kamis malam, pada "all American Final."
"Saya tidak memiliki kata-kata untuk menjelaskan apa yang saya rasakan untuk bisa berada di sini. Perjalanan yang saya lalui. Saya tidak memiliki kata-kata," kata Stephens, yang menjalani operasi kaki Februari silam.
"Jika seseorang mengatakan saya akan berada di dua semifinal dan final Grand Slam tahun ini saya akan pingsan, seperti itulah perasaan saya sekarang."
"Saya tidak tahu bagaimana saya bisa berada di sini. Kerja keras, itu saja."
Stephens (24), yang lebih muda 13 tahun dari Williams, memberi penghormatan terhadap juara Grand Slam tujuh kali itu.
"Sejujurnya saya merasa terhormat untuk bermain di saat yang sama dengan dia. Salah satu (sosok) terhebat yang memainkan permainan kami. Ia merupakan salah satu kompetitor terhebat dan saya merasa terhormat untuk berbagi lapangan dengan dia dan gembira dapat bermain di kurun waktu yang sama dengan dia."
"Bagi tenis Amerika tidak ada tanda tanya di sini. Buktinya ada di puding. Tenis Amerika, di sinilah kami berada."
Meski kurang banyak bertanding tahun ini, Stephens memulai permainan dengan kepercayaan diri tinggi dan mematahkan serve sang lawan untuk unggul 3-1 ketika pukulan Williams mengenai net, dan kemudian memenangi tiga gim terakhir di set itu ketika petenis 37 tahun lawannya kesulitan dengan serve.
Permainan service pertama Williams kembali membahayakan dirinya pada set kedua, namun ia mampu memperbaikinya dan mematahkan serve lawan pada gim berikutnya karena double fault Stephens.
Ia kemudian menahan "love" untuk mengukuhkan dominasinya di set kedua dan unggul 4-0 melalui pengembalian service yang indah, disusul dengan voli rutin ketika Stephens memperlihatkan dirinya kesulitan dan kehilangan set berbanding "love" ketika ia kembali melakukan "unforced error."
Bagaimanapun, petenis 24 tahun itu mampu kembali ke jalur di set penentuan, unggul 1-0 melalui serve Williams ketika pukulan voli mudah lawannya membentur net.
Ia menyelamatkan dua break point pada gim selanjutnya namun Williams menyamakan kedudukan menjadi 2-2 ketika pukulan forehand Stephens melebar.
Namun pada akhir gim selama tujuh menit ini, pukulan voli Williams kembali membentur net untuk membuat lawannya mendapatkan break untuk memimpin 4-3.
Williams balas mematahkan serve lawan dengan pukulan pengembalian servicenya, dan ia menyelamatkan break point untuk menahan 5-4.
Namun, ketika Williams kesulitan dengan volinya, Stephens mematahkan serve untuk "love" pada gim ke-11, dan menindak lanjuti serve untuk menutup permainan ketika pukulan backhand Williams membentur net.
"Ini jelas merupakan permainan yang kontras," kata Williams mengenai pertandingan ini.
"Anda tahu, saya terus bermain agresif dan terus memainkan jenis permainan yang diperlukan untuk menang. Hanya melakukan terlalu banyak kesalahan di akhirnya."(*)
Pewarta: SupervisorEditor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.