Zubi Mahrofi
Jakarta (Antara) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa pagi, bergerak menguat menjadi Rp13.310 sementara indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah sebesar 16,34 poin.
Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa pagi, bergerak menguat menjadi Rp13.310 dibandingkan sebelumnya Rp13.320 per dolar Amerika Serikat (AS).
"Kurs rupiah masih dalam tren penguatan terhadap dolar AS, surplus neraca perdagangan Juni 2017 yang naik menjadi salah satu faktornya," kata Ekonom Sammuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Selasa.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan pada Juni 2017 sebesar 1,63 miliar dolar AS.
Ia menambahkan bahwa kondisi dolar AS yang cenderung mengalami pelemahan terhadap mayoritas mata uang dunia, juga turut memberikan sentimen positif bagi kurs domestik.
"Rupiah masih berpeluang menguat di tengah dolar AS yang konsisten melemah di pasar global," katanya.
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menambahkan, rasio utang Indonesia yang relatif masih tergolong kecil dibandingkan negara-negara anggota G20 meredakan kekhawatiran pelaku pasar.
"Pemerintah menyatakan rasio utang terhadap PDB masih di bawah batas aman. Kondisi itu menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia," katanya.
Ia menambahkan bahwa sentimen positif di dalam negeri itu membuat permintaan terhadap aset-aset berdenominasi rupiah kembali meningkat sehingga fluktuasi mata uang domestik di pasar valas bergerak di area positif.
IHSG Melemah
Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Selasa dibuka melemah sebesar 16,34 poin dipicu sentimen eksternal yang negatif.
IHSG BEI dibuka turun 16,34 poin atau 0,28 persen menjadi 5.824,93 poin. Sementara itu kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak melemah 4,12 poin (0,42 persen) menjadi 976,25 poin.
"Sentimen eksternal masih dibayangi ketidakpasatian baik politik dan ekonomi, kondisi itu menjadi penahan laju pergerakan IHSG," kata Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, situasi politik di Amerika Serikat yang masih memanas serta ekonomi di kawasan Eropa yang juga cenderung mendatar membuat investor saham di dalam negeri menahan aksi beli.
Kendati demikian, lanjut dia, sentimen dari dalam negeri yang positif seperti data neraca perdagangan Indonesia yang mencatatkan surplus akan menahan pelemahan IHSG lebih dalam.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan pada Juni 2017 sebesar 1,63 miliar dolar AS. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari-Juni 2017 mencapai 7,63 miliar dolar AS. Kinerja ekspor pada periode tersebut mencapai 79,96 miliar dolar AS dan impor sebesar 72,33 miliar dolar AS.
Analis Indosurya Mandiri Sekuritas William Surya Wijaya menambahkan bahwa pelaku pasar asing diharapkan melakukan akumulasi beli saham setelah cenderung keluar dalam beberapa hari terakhir ini sehingga dapat mendorong IHSG ke area positif.
"Pelaku pasar asing masih melakukan aksi jual, dengan kondisi domestik yang positif diharapkan kembali mendorong aksi beli investor asing," katanya.
Bursa regional, di antaranya indeks bursa Nikkei turun 122,07 poin (0,61 persen) ke 19.996,43, indeks Hang Seng menguat 46,54 poin (0,18 persen) ke 26.517,12, dan Straits Times menguat 0,99 poin (0,03 persen) ke posisi 3.299,44. (*)
Pewarta: SupervisorEditor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.