Jakarta, (Antara) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa pagi, bergerak menguat tipis sebesar lima poin, sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menurun sebesar 11,55 poin.
Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa pagi, bergerak menguat tipis sebesar lima poin menjadi Rp13.305, dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.310 per dolar AS.
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Selasa mengatakan bahwa mata uang rupiah menguat namun cenderung terbatas di tengah masih minimnya sentimen positif yang beredar baik dari dalam negeri maupun eksternal.
"Masih minimnya sentimen positif dari dalam negeri membuat laju rupiah berkurang daya dorongnya," kata Reza.
Ia menambahkan bahwa terbatasnya laju rupiah juga terjadi karena masih adanya respon positif pasar terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS yang di atas perkiraan pasar.
Selain itu, lanjut Reza, harga minyak mentah dunia yang bergerak melemah juga turut menjadi faktor yang menahan laju rupiah. Terpantau harga minyak jenis WTI Crude melemah 0,10 persen menjadi 49,75 per barel, dan Brent Crude turun 0,23 persen menjadi 52,06 per barel.
Di sisi lain, ia mengatakan bahwa perhatian pelaku pasar juga kembali tertuju pada tensi geopolitik di semenanjung Korea. Dikabarkan, Korea Utara kembali melakukan uji coba misil balistik.
"Dampak yang terjadi pada geopolitik itu memicu pemintaan aset-aset 'safe haven' kembali meningkat," katanya.
Ia mengharapkan bahwa pasar surat utang negara yang masih diminati oleh investor asing dapat membuat likuiditas dolar AS terjaga sehingga fluktuasi rupiah stabil.
IHSG
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa, dibuka menurun sebesar 11,55 poin menyusul masih maraknya sentimen negatif yang beredar.
IHSG BEI dibuka turun 11,55 poin atau 0,20 persen menjadi 5.700,77 poin. Sementara itu kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak melemah 2,90 poin (0,30 persen) menjadi 950,91 poin.
"Akumulasi sentimen negatif baik dari dalam negeri maupun eksternal membayangi laju IHSG," kata Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere di Jakarta, Selasa.
Dari dalam negeri, Nico Omer mengemukakan bahwa proyeksi inflasi yang tinggi pada bulan puasa dan Lebaran menjadi salah satu faktor negatif di dalam negeri.
Dari eksternal, lanjut dia, bursa saham global juga cenderung mengalami pelemahan menyusul kebijakan Presiden AS Donald Trump kembali melakukan hal kontroversi dengan meninggalkan pertemuan tingkat tinggi G7 di Sisilia tanpa memastikan komitmennya.
"Koreksi IHSG juga tidak lepas dari adanya pengaruh bursa saham global terutama bursa di kawasan Asia, yang cenderung menglami tekanan," katanya.
Sementara itu,analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menambahkan bahwa mulai memudarnya eforia atas kenaikan peringkat utang Indonesia dari Standard & Poor's (S&P) juga turut menyebabkan laju IHSG cenderung tertahan.
"Namun, peluang kenaikan IHSG masih dapat terjadi seiring dengan fundamental ekonomi nasional yang kondusif," kata Reza.
Bursa regional, di antaranya indeks bursa Nikkei turun 104,80 poin (0,53 persen) ke 19.577,77, indeks Hang Seng menguat 62,36 poin (0,24 persen) ke 25.701,63, dan Straits Times melemah 7,23 poin (0,25 persen) posisi 3.206,27. (*)
Pewarta: Slamet Hadi PurnomoEditor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.