Presiden Perancis saat ini Francois Hollande mengatakan bahwa kemenangan Macron menunjukkan jika mayoritas warga Prancis ingin bersatu dengan "nilai republik".
Perdana Menteri Prancis Bernard Cazeneuve mengatakan bahwa warga Prancis telah memilih agar Prancis tetap mempertahankan posisinya di jantung Eropa.
Menteri Lingkungan Sosial Segolene Royal mengatakan bahwa kemenangan Macron merupakan sebuah sinyal perubahan dalam generasi politik yang menawarkan harapan.
Menteri Sosial Prancis Najat Vallaud Belkacem mengatakan Macron adalah presiden "lemah", banyak orang memilihnya tanpa pertimbangan.
Florian Philippot, wakil pemimpin Front Nasional, yang kandidatnya Marine Le Pen dikalahkan oleh Macron, mengatakan bahwa kemenangan Macron adalah kemenangan oligarki keuangan.
Pemimpin konservatif Francois Baroin mengatakan bahwa dia akan melakukan hal yang bertentangan dengan Macron pada pemilihan legislatif bulan Juni mendatang.
Anggota parlemen konservatif Prancis Bruno Le Maire mengatakan bahwa Macron harus bekerja bersama, termasuk dengan mereka yang tidak memilihnya.
Mantan kandidat presiden sayap kiri Jean-Luc Melenchon mengatakan bahwa dia yakin Macron akan menghancurkan sistem sosial Prancis dan meminta pemilihnya untuk memobilisasi pemilihan anggota parlemen pada Juni mendatang.
Serikat pekerja terbesar Perancis CFDT mengatakan bahwa Macron tidak boleh acuh terhadap masalah sosial pemilih.
Serikat pekerja garis keras CGT menuntut demonstrasi pada 8 Mei untuk menandai awal kepresidenan Macron.
Serikat buruh garis keras Force Ouvriere mengatakan bahwa reformasi tenaga kerja akan dilakukan, menjadikan ujian pertama bagi Macron.
Kepala pelobi bisnis Prancis Pierre Gattaz mengatakan pada akun Twitter pribadinya bahwa dia berharap kemenangan Macron akan menandai pembaruan sejati untuk negara.
Dan pengurus Masjid utama Paris mengatakan bahwa terpilihnya Macron dapat memberi harapan bagi muslim Prancis untuk dapat hidup dengan harmonis.(*)
Pewarta: SupervisorEditor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.