Jakarta (Antara) - Nilai tukar rupiah dalam transaksi antar bank di Jakarta pada Senin pagi turun 67 poin sedangkan Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), dibuka menurun sebesar 37,04 poin.

Nilai tukar rupiah dalam transaksi antar bank di Jakarta pada Senin pagi turun 67 poin menjadi Rp13.447 per dolar AS.

"Ketidakpastian global yang meningkat ketika pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia diumumkan relatif melambat sudah cukup untuk memicu pelemahan rupiah terhadap dolar AS," kata Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta.

Ia mengatakan tekanan terhadap rupiah berpeluang bertahan dalam jangka pendek ini, paling tidak sampai pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan Desember.

"Namun ruang pelemahan bisa tertahan dengan intervensi Bank Indonesia di pasar valas dan surat utang negara," katanya.

Ia memperkirakan bahwa dalam jangka menengah membaiknya indikator fundamental seperti defisit neraca transaksi berjalan, inflasi serta prospek perbaikan defisit fiskal akan menjaga tren penguatan rupiah.

Rangga juga mengatakan bahwa fokus akan perlahan beralih ke data perdagangan Indonesia dan kebijakan Bank Indonesia terhadap BI 7-day (Reverse) Repo Rate yang sedianya akan dirilis pekan ini.

Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk, Rully Nova, mengatakan di tengah sentimen yang masih cenderung negatif, aksi hindar terhadap aset mata uang berisiko masih berlanjut, sehingga menambah tekanan terhadap mata uang rupiah.

Di sisi lain, dia menjelaskan, sebagian pelaku pasar mulai melirik komoditas emas emas sebagai pengalihan karena logam mulia dinilai dapat menjaga nilai aset agar tetap stabil.


IHSG


Sementara itu, IHSG dibuka menurun sebesar 37,04 poin dipicu sentimen negatif eksternal yang masih berlangsung.

IHSG BEI dibuka melemah 37,04 poin atau 0,71 persen menjadi 5.194,92. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak turun 9,33 poin (1,06 persen) menjadi 868,97.

"Koreksi yang masih berlangsung di bursa kawasan Asia, masih akan memberikan tekanan pada pergerakan IHSG," kata Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo di Jakarta, Senin.

Menurut dia, koreksi yang terjadi di pasar saham seiring dengan antisipasi investor terhadap aksi-aksi yang akan ditunjukkan oleh Donald Trump, sebagai Presiden Terpilih Amerika Serikat yang sedianya akan diangkat pada Januari 2017.

Di sisi lain, lanjut dia, pelaku pasar di negara-negara berkembang juga khawatir bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan menaikkan suku bunga dengan lebih agresif pasca Donald Trump menjadi Presiden AS.

Namun secara teknikal, ia mengatakan bahwa koreksi IHSG yang sudah cukup dalam jika dibandingkan dengan bursa saham di negara berkembang lainnya, dapat membuka peluang bagi IHSG untuk kembali bergerak menguat.

Hal senada juga dikatakan Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere. Ia mengatakan bahwa di tengah minimnya sentimen positif dari dalam negeri, fluktuasi IHSG masih akan terbawa pengaruh sentimen dari pasar global.

"Gejolak pasar yang terjadi di AS sangat sensitif terhadap pasar saham di dalam negeri. Tentunya, hal itu juga menjadi ancaman bagi pergerakan rupiah," katanya.

Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng melemah 329,60 poin (1,46 persen) ke level 22.201,49, indeks Nikkei naik 265,77 poin (1,53 persen) ke level 17.640,56, dan Straits Times melemah 29,02 poin (1,03 persen) posisi 2.785,85. (*)



Pewarta: Slamet Hadi Purnomo
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026