Jakarta (Antara) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi belum bergerak atau stagnan sedangkan  Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI)  turun sebesar 10,97 poin.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi belum bergerak atau stagnan di posisi Rp13.260 per dolar AS.

Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan inflasi yang rendah cukup berhasil memicu penguatan surat utang negara (SUN) sehingga rupiah bergerak stabil di tengah penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang di kawasan Asia akibat buruknya data ekonomi Tiongkok 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Agustus 2016 terjadi deflasi 0,02 persen. Dengan demikian inflasi tahun kalender mencapai 1,74 persen (year to date/ytd). Sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun (Agustus 2016 terhadap Agustus 2015) sebesar 2,79 persen.

Ia menambahkan bahwa inflasi yang menurun akan meningkatkan harapan pemangkasan Bank Indonesia 7-Day Repo Rate. Kondisi itu membuka peluang bagi nilai tukar rupiah untuk bergerak menguat.

"Apalagi disertai dengan optimisme pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sehingga dapat mempertahankan sentimen positif dari domestik," katanya.

Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk, Rully Nova menambahkan periode Agustus yang mencatatkan deflasi itu mendorong harapan target inflasi 2016 ini akan tercapai. Bank Indonesia menargetkan inflasi 4 persen dengan plus minus 1 persen.

"Dari dalam negeri sentimennya cukup positif. Namun, maraknya sentimen kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (Fed fund rate) pada September nanti masih membayangi laju mata uang domestik," katanya.

IHSG

IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat dibuka turun sebesar 10,97 poin atau 0,21 persen menjadi 5.323,57.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak turun 2,75 poin (0,30 persen) menjadi 913,02.

"Pasca dirilisnya data ekonomi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang pada umumnya positif, namun IHSG masih bergerak di area negatif," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Jumat.

Menurut Reza Priyambada, tekanan indeks BEI disebabkan oleh nilai tukar rupiah yang berfluktuasi dengan kecenderungan melemah seiring dengan stok mingguan minyak mentah Amerika Serikat yang bertambah.

Ia mengharapkan bahwa sentimen dalam negeri yang terbilang positif dapat menjaga indeks BEI untuk tidak tertekan lebih dalam. BPS mencatat pada Agustus 2016 terjadi deflasi 0,02 persen. Dengan demikian inflasi tahun kalender mencapai 1,74 persen (year to date/ytd). Sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun (Agustus 2016 terhadap Agustus 2015) sebesar 2,79 persen.

Sementara itu, Market Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia pada Agustus naik ke level 50,4 dari 48,4 pada bulan sebelumnya. Menurut Reza Priyambada, data manufaktur yang berada di atas 50 menandakan bahwa Indonesia sedang ekspansi.

Kepala Riset Universal Satrio Utomo menambahkan bahwa data yang dipublikasikan oleh BPS Kamis (1/9), sebenarnya memiliki sentimen positif. Akan tetapi, sentimen positif itu sepertinya sulit tercermin pada pergerakan harga, karena pelaku pasar berharap sentimen yang lebih besar.

"Pemodal sebaiknya tetap berada dalam posisi jangka pendek dan hanya melakukan posisi beli untuk jangka menengah jika terdapat tanda bahwa tren penurunan IHSG sudah akan berakhir," kata Satrio Utomo.

Bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng menguat 67,84 poin (0,29 persen) ke level 23.230,18, indeks Nikkei turun 5,56 poin (0,03 persen) ke level 16.921,28, dan Straits Times melemah 5,63 poin (0,20 persen)  posisi 2.810,00. (*)



Pewarta: Supervisor
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026