Jakarta (Antara) -  Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Senin pagi bergerak menjadi Rp13.164 per dolar AS, sedangkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin dibuka naik sebesar 9,86 poin. 

"Bank Indonesia mempertahankan suku bunga baru. Pelonggaran moneter yang tertunda bisa membuat pelemahan rupiah di tengah penguatan dolar AS di pasar global," kata Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta.

Bank Indonesia pada Jumat (19/8) mempertahankan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 5,25 persen, dengan penurunan bunga "lending facility" sebesar 100 basis poin menjadi 6 persen.

Ia menambahkan, Bank Indonesia juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi di 2016 yang turut mempengaruhi laju mata uang domestik.

Dari eksternal, lanjut dia, dolar AS mulai menguat semenjak pernyataan wakil gubernur bank sentral Amerika Serikat (The Fed) Stanley Fischer yang cukup percaya diri bahwa perekonomian Amerika Serikat sudah mulai membaik.

Di sisi lain, lanjut dia, spekulasi pembatasan produksi minyak mentah oleh anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), mendorong harga minyak mentah dunia turun sehingga mempengaruhi mata uang komoditas, seperti rupiah.

Pada Senin pagi, harga minyak jenis WTI Crude melemah 1,20 persen menjadi 47,94 dolar AS per barel, dan Brent Crude turun 1,51 persen menjadi 50,11 dolar AS per barel.

Sementara itu, pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova mengatakan, pelemahan rupiah relatif terbatas dikarenakan Bank Indonesia masih menjaga fluktuasinya sesuai dengan fundamentalnya.

"Nilai tukar rupiah masih stabil, apalagi ada penjagaan Bank Indonesia yang juga didukung dari fundamental ekonomi yang relatif masih baik," katanya. 


IHSG
 Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin dibuka naik sebesar 9,86 poin seiring dengan harapan pertumbuhan ekonomi domestik.

IHSG BEI dibuka naik 9,86 poin atau 0,18 persen menjadi 5.425,89. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak menguat 2,53 poin (0,27 persen) menjadi 933,93.

"Optimisme pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi ke depan mengangkat kepercayaan bagi pelaku pasar terhadap investasi pada asset berisiko ini di Indonesia. Artinya, sentimen itu masih akan memberikan dorongan bagi apresiasi IHSG," kata Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere di Jakarta, Senin.

Ia menambahkan bahwa kendati masih ada tantangan dari perlambatan ekonomi global, pemerintah optimistis asumsi pertumbuhan ekonomi pada RAPBN 2017 sebesar 5,3 persen bisa tercapai melalui optimalisasi kinerja sektor investasi.

Selain investasi, lanjut dia, pemerintah masih bisa mengandalkan konsumsi rumah tangga untuk mendukung kinerja perekonomian, dengan menjaga daya beli masyarakat melalui pengendalian laju inflasi.

Analis Asjaya Indosurya Securities Wiliam Surya Wijaya menambahkan bahwa pelaku pasar kembali melakukan aksi beli setelah sempat melepas sahamnya pada akhir pekan lalu (19/8). Secara teknikal, indeks BEI 5.386-5.489 poin dengan kecenderungan menguat pada awal pekan ini (22/8).

"Aliran dana pelaku pasar asing yang masih terus mengalir menjadi salah satu faktornya," katanya.

Bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng menguat 22,32 poin (0,10 persen) ke level 22.959,54, indeks Nikkei naik 32,98 poin (0,24 persen) ke level 16.585,80, dan Straits Times melemah 2,33 poin (0,09 persen) ke posisi 2.841,57.


Pewarta: Supervisor
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026