Jakarta (Antara) - Nilai tukar rupiah dalam transaksi antarbank di Jakarta turun lima poin, sedangkan Indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia (IHSG BEI) turun 5,74 poin.
Nilai tukar rupiah dalam transaksi antarbank di Jakarta turun lima poin menjadi Rp13.095 per dolar AS pada Rabu pagi.
Analis dari PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong mengatakan aliran dana investor asing yang masih masuk ke pasar keuangan dalam negeri akan membuat pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi terbatas.
"Dana asing masih mengalir ke dalam negeri, kondisi itu akan menjaga permintaan terhadap mata uang rupiah masih baik sehingga jika terjadi pelemahan masih di kisaran terbatas," katanya.
Ia menambahkan data ekonomi Amerika Serikat yang masih di bawah harapan juga akan membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate) dalam waktu dekat meredup.
Data produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat kuartal II tahun ini yang di bawah estimasi pasar, yakni sebesar 1,2 persen, membuat dolar AS masih tertekan terhadap mata uang dunia yang akhirnya dapat berdampak positif terhadap rupiah.
Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan data indeks non-manufaktur yang turun serta data tenaga kerja versi Automatic Data Processing (ADP) yang tercatat 171.000 pada Juli, lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebanyak 172.000, juga bisa ikut mempengaruhi pergerakan rupiah.
"Kombinasi data-data itu berpotensi memberikan tekanan bagi dolar AS," katanya.
IHSG Melemah
Sementara itu, IHSG Bursa Efek Indonesia turun 5,74 poin atau 0,11 persen menjadi 5.367,58 pada pembukaan perdagangan Rabu pagi.
Kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 juga bergerak melemah 0,19 persen menjadi 924,81.
"Aksi jual oleh pelaku pasar setelah rally kenaikan saham selama beberapa hari terakhir membuat laju IHSG pada hari ini tertahan," kata Wakil Presiden Riset dan Analisis Valbury Asia Securities, Nico Omer Jonckheere.
Kondisi ekonomi global yang belum kondusif, menurut dia, berdampak negatif terhadap bursa saham di kawasan Asia, kondisi itu menjadi salah satu faktor yang menahan laju IHSG.
"Ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, otoritas moneter Amerika Serikat yang tengah bersiap untuk menaikkan suku bunga kembali menjadi salah satu pertimbangan investor," katanya.
Kendati demikian, dia menjelaskan, sentimen terkait penerapan kebijakan amnesti pajak dari dalam negeri dapat menahan penurunan IHSG BEI dan masih berpotensi menjadi katalis positif bagi bursa saham Indonesia.
Analis Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya, menambahkan bahwa investor asing yang diproyeksikan masih melanjutkan aksi beli dapat membuat penurunan IHSG menjadi terbatas.
"Data perekonomian domestik yang stabil menjadi salah satu faktor yang membuat aliran dana asing masih masuk," katanya.
Di tingkat regional, indeks Hang Seng melemah 358,58 poin (1,62 persen) menjadi 21.770,56; indeks Nikkei turun 139,84 poin (0,85 persen) ke level 16.251,61; dan Straits Times melemah 24,23 poin (0,86 persen) ke posisi 2.833,05. (*)
Pewarta: Slamet Hadi PurnomoEditor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.