"Manfaatkan momentum tahun ini sebagai tahun basah," kata Amran Sulaiman di Jakarta, Selasa.
Untuk itu, ujar dia, pihaknya juga telah mendorong pembangunan infrastruktur pertanian hingga bantuan alat pertanian untuk mengatasi permasalahan seperti irigasi dan juga traktor lahan.
Selain itu, Mentan mengemukakan bahwa pihaknya bakal membuat regulasi agar strategi perencanaan juga bisa konsisten sekaligus memperbaiki tata niaga yang ada di Tanah Air.
"Kami perbaiki kemudian kami dorong untuk ekspor," katanya dan menambahkan, pihaknya juga melibatkan banyak pihak termasuk masyarakat dan swasta.
Pada intinya, Amran Sulaiman menyatakan bahwa negara atau pemerintah selalu hadir dalam mengatasi sejumlah permasalahan sektor pertanian.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, duta besar dari sejumlah negara mengapresiasi berbagai kesiapan yang telah dilakukan pemerintah Indonesia saat menghadapi krisis El Nino tahun 2015.
"Dubes-dubes mengapresiasi yang kami lakukan sehingga kami bisa melewati kondisi kritis El Nino," kata Amran Sulaiman di Kantor Pusat Kementerian Pertanian di Jakarta, Selasa (24/5).
Ketika itu, Mentan RI dijadwalkan menerima duta besar dari beberapa Negara, yaitu Libya, Spanyol, Argentina, Iran dan Srilanka.
Menurut Amran, sebagian besar dari negara tersebut juga telah melewati krisis El Nino yang sama seperti yang telah mereka rasakan pada sekitar tahun 1997.
Mentan juga mengungkapkan dalam pertemuan tersebut, pihaknya melalui dubes-dubes tersebut mengundang pengusaha dari negara-negara itu untuk berinvestasi di Indonesia, khususnya terkait komoditas gula, jagung dan juga peternakan sapi.
Sebagaimana diberitakan, perubahan iklim dan persoalan populasi bila tidak diantisipasi dengan baik bakal menempatkan 1,3 miliar orang dan aset sebesar 158 triliun dolar AS dalam bahaya pada tahun 2050, menurut laporan Bank Dunia.
"Dengan perubahan iklim dan meningkatnya jumlah orang di kawasan perkotaan juga mendorong dengan pesat risiko pada masa mendatang," kata Direktur Senior untuk Perubahan Iklim Grup Bank Dunia John Roome dalam rilis.
Menurut John Roome, sudah seharusnya berbagai pihak terkait mengubah pendekatan kepada perencanaan masa depannya baik untuk daerah perkotaan maupun kawasan pesisir yang berpotensi mengakibatkan bencana tersebut yang dapat menghasilkan meningkatnya kerugian secara drastis ke depannya.
Laporan bertajuk "The Making of a Riskier Future: How Our Decisions are Shaping the Future of Disaster Risk" itu menyatakan bahwa sejumlah kota yang padat penduduknya di kawasan pesisir selalu mengalami penurunan muka tanah dan kondisi itu juga diperparah dengan meningkatnya tingkat ketinggian air laut.(*)
Pewarta: SupervisorEditor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.