Jakarta (Antara) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta Senin pagi bergerak melemah sebesar 68 poin, sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia naik 4,32 poin.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta Senin pagi bergerak melemah sebesar 68 poin menjadi Rp13.622 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.554 per dolar AS.

Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Senin mengatakan bahwa Ketua The Fed Janet Yellen menunjukkan niatan untuk menaikkan suku bunga acuannya dalam beberapa bulan ke depan walaupun dengan syarat adanya perbaikan ekonomi AS.

Pernyataan itu menambah dorongan penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang utama dunia.

"The Fed memberi sinyal kenaikan suku bunga acuannya, itu yang mendorong dolar AS menguat," katanya.

Ia menambahkan bahwa revisi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat pada kuartal I 2016 yang naik juga menambah alasan bagi dolar AS untuk mengembalikan tren penguatannya.

Ia mengharapkan bahwa surat utang negara (SUN) serta indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menguat seiring dengan harga komoditas minyak mentah dunia, diharapkan menjaga rupiah untuk tidak tertekan lebih dalam.

Ia menambahkan bahwa adanya harapan yang meningkat atas disahkannya RUU pengampunan pajak atau "tax amnesty" dalam waktu dekat serta inflasi domestik yang sedianya akan dirilis pada Rabu (1/6) pekan ini yang stabil, dapat menambah optimisme terhadap prospek aset keuangan berdenominasi rupiah.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan bahwa adanya komentar dari Ketua Federal Reserve Janet Yellen yang menekankan adanya prospek kenaikan suku bunga AS dalam jangka pendek akan mempertahankan dolar AS menguat terhadap mata uang utama lainnya.

"Namun, diproyeksikan penguatan dolar AS berpeluang terbatas mengingat aksi 'wait and see' terhadap kebijakan The Fed itu," katanya.


IHSG


Sementara itu, IHSG di Bursa Efek Indonesia naik 4,32 poin atau 0,09 persen menjadi 4.819,05 pada awal perdagangan Senin pagi.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak naik 1,06 poin (0,13 persen) menjadi 827,36.

"Di tengah komentar Gubernur The Fed Janet Yellen bahwa suku bunga bakal mengalami kenaikan pada bulan Juni nanti, indeks BEI masih mampu bergerak naik, itu menunjukan kekhawatiran pasar atas kenaikan suku bunga The Fed sudah mereda," kata Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo.

Ia mengatakan IHSG berpotensi menuju level 4.825 poin dan jika level itu tercapai maka indeks BEI berpeluang naik hingga level psikologis 5.000 poin dalam jangka pendek.

Kenaikan lanjutan pada IHSG, menurut dia, terlihat cukup kuat dengan dukungan saham-saham tiga sektor utama, yakni perbankan, konsumer, dan komoditas.

Tren naik juga, ia melanjutkan, terlihat pada saham-saham sektor konstruksi, properti, semen, dan grup Astra.

Wakil Presiden Riset dan Analisis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere mengatakan di dalam negeri, pelaku pasar saham pekan ini menunggu rilis data ekonomi, termasuk angka inflasi.

Ia mengatakan bahwa Bank Indonesia (BI) melakukan survei pemantauan harga yang menunjukkan laju Indeks Harga Konsumen (IHK) hingga pekan ketiga Mei 2016 tercatat mengalami inflasi  0,19 persen secara bulanan. Sementara inflasi sepanjang tahun ini tetap terkendali di kisaran empat persen plus minus satu persen.

"Katalis positif baik dari dalam negeri maupun luar negeri tersebut diharapkan mampu mendorong IHSG untuk melaju ke area positif dalam pekan ini," katanya.

Di tingkat regional, indeks Bursa Hang Seng menguat 66,21 poin (0,32 persen) ke level 20.642,98; indeks Nikkei naik 149,70 poin (0,89 persen) ke level 16.984,54; dan Straits Times melemah 2,35 poin (0,08 persen) ke posisi 2.800,13. (*)







Pewarta: Supervisor
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026