Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa pagi melemah 27 poin menjadi Rp13.326 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.299 per dolar AS.
"Nilai tukar rupiah melemah sejalan dengan penguatan dolar AS di pasar kawasan Asia serta harga minyak mentah dunia di pasar global yang bervariasi," kata Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Selasa.
Terpantau, harga minyak mentah jenis WTI Crude pada Selasa pagi ini, berada di level 43,28 dolar AS per barel, turun 0,37 persen. Sementara minyak mentah jenis Brent Crude di posisi 43,64 dolar AS per barel, menguat 0,02 persen.
Ia menambahkan bahwa sentimen mengenai pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal I 2016 yang di bawah harapan menjadi salah satu sentimen negatif bagi mata uang domestik.
Namun, menurut dia, pembalikan arah pergerakan rupiah ke area positif juga berpotensi terbuka menyusul belum adanya dukungan data ekonomi dari Amerika Serikat yang solid untuk mendorong penguatan dolar AS lebih tinggi.
"Di tengah situasi seperti itu, dapat mengembalikan dorongan penguatan mata uang rupiah terhadap dolar AS ke depannya," katanya.
Pada pekan ini, lanjut dia, pelaku pasar sedang menanti data ekonomi domestik yang akan dirilis yakni cadangan devisa April 2016, serta angka penjualan mobil dan motor April 2016. Diharapkan, data-data itu dirilis positif sehingga dapat menopang mata uang rupiah.
Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan bahwa sentimen dari eksternal mengenai melemahnya data ekspor-impor Tiongkok dapat menambah imbas negatif bagi mata uang rupiah.
"Sejumlah sentimen masih menekan laju valuta asing di kawasan Asia sehingga rupiah pun diproyeksikan sulit untuk bangkit," katanya.
IHSG Turun
Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa dibuka turun tipis sebesar 0,20 poin terpengaruh sentimen sell in May and go away.
IHSG BEI dibuka melemah sebesar 0,20 poin atau nyaris 0,00 persen menjadi 4.748,74. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak naik 0,59 poin (0,07 persen) menjadi 815,80.
"IHSG bergerak mendatar dengan kecenderungan menurun. Sentimen mengenai sell in May and go away sepertinya cukup mempengaruhi sebagian pelaku pasar saham di dalam negeri," kata Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio utomo di Jakarta, Selasa.
Apalagi, lanjut dia, sentimen itu didukung dengan kondisi ekonomi global yang terlihat belum cukup kondusif. Pemodal sebaiknya mengambil posisi defensif seraya menanti munculnya sinyal positif.
"Namun untuk posisi jangka menengah, sejauh ini kami masih memberikan rekomendasi akumulasi untuk saham-saham sektor konsumer dan telekomunikasi," katanya.
Sementara itu, Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere mengatakan bahwa secara teknis, IHSG masih membuka peluang untuk kembali bergerak menguat setelah munculnya kabar dari Presiden Joko Widodo yang meminta sejumlah langkah perbaikan agar Indonesia masuk dalam kategori negara layak investasi.
"Hal itu, dapat meningkatkan persepsi terhadap Indonesia yang akan mendorong peningkatan arus modal dan investasi masuk ke Indonesia. Sehingga potensi IHSG kembali menguat dapat terealisasi," katanya.
Bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng melemah 51,25 poin (0,25 persen) ke level 20.105,56, indeks Nikkei naik 220,32 poin (1,36 persen) ke level 16.436,35, dan Straits Times melemah 14,86 poin (0,51 persen) ke posisi 2.750,65. (*)
Pewarta: SupervisorEditor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.