Malang (Antara Jatim) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang terus mengoptimalkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui kelompok kerja operasional ("Pokjanal") yang secara intensif melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas.

"Pokjanal ini sudah cukup lama vakum dan sekarang kami giatkan kembali karena curah hujan di Kota Malang cukup tinggi, sehingga perlu kerja keras dan ekstra waspada terhadap genangan air yang ada di sekitar kita. Nah, Pokjanal inilah yang akan terus memantau lingkungan dan secara intensif mengajak warga untuk melakukan PSN," kata Kepala Dinkes Kota Malang Dr dr Asih Tri Rachmi Nuswantari di Malang, Kamis.

Ia berharap digiatkannya kembali Pokjanal bisa mengoptimalkan penanggulangan dan penanganan demam berdarah di lingkungan masyarakat. Keberadaan Pokjanal ini juga harus bertanggungjawab di semua kecamatan dan kelurahan yang ada di wilayah Kota Malang dalam mengimbau masyarakat untuk melakukan PSN sekaligus menekan kasus demam berdarah.

Asih menyarankan untuk menekan angka perkembangbiakan nyamuk penyebab demam berdarah dapat dilakukan program PSN karena lebih aman daripada melakukan fogging (pengasapan) maupun pemberian obat abate yang notabene mengandung zat kimia.

Selain PSN, lanjutnya, masyarakat juga harus waspada dan selalu menjaga kebersihan, sebab dikhawatirkan nyamuk aides agypt bisa berkembang biak di genangan air, tak terkecuali di air bersih. Apalagi, saat ini curah hujan juga cukup tinggi yang menyebabkan banyak genangan air.

"Justru nyamuk itu berkembang biaknya di air yang bersih, misalnya air di vas bunga. Kalau di genangan air yang di bawahnya ada tanah, jentik-jentik nyamuk bisa dimakan sama cacing yang ada di tanah," katanya.

Asih juga mengingatkan agar orang tua, khususnya ibu-ibu untuk mengawasi anak-anaknya yang masih mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sebab banyak permainan anak-anak di PAUD yang bisa saja menjadi sarang nyamuk.

"Selama satu bulan terakhir ini (Januari 2016) jumlah kasus DBD di Kota Malang mencapai 15 kasus dan 1 orang meninggal. Dan, sebagian besar yang menjadi korban demam berdarah adalah anak-anak," tuturnya.(*)

Pewarta: Endang Sukarelawati
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026