Padahal, donasi dari perusahaan lain ini penting untuk menekan biaya operasional KBS yang tiap tahun terus membengkakSurabaya (Antara Jatim) - Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) Kebun Binatang Surabaya (KBS) kesulitan mendapat donasi dari perusahaan lain karena hingga saat ini masih ada persoalan sengketa lahan.
Direktur Keuangan dan SDM PDTS KBS, Fuad Hassan, di Surabaya, Senin, mengatakan akibatnya biaya operasional KBS tetap banyak mengandalkan dari kas internal.
"Padahal, donasi dari perusahaan lain ini penting untuk menekan biaya operasional KBS yang tiap tahun terus membengkak," katanya.
Ia mencontohkan pada Agustus lalu, pihaknya sudah menjalin kerja sama dengan PT Indosat Tbk. Dalam kerja sama itu, perusahaan selular tersebut berencana mengucurkan bantuan uang senilai Rp100 juta.
Hanya saja, lanjut dia, hingga sekarang dana tersebut tidak kunjung dicairkan Indosat akibat KBS masih ada sengketa lahan dengan pihak perkumpulan.
"Tapi kami tetap berupaya meyakinkan pada Indosat bahwa, lahan KBS itu sudah menjadi milik Pemkot. Bahkan, kami juga sudah ditetapkan sebagai lembaga konservasi. Akhirnya, rencananya akhir Desember uang itu akan cair," katanya.
Fuad menambahkan, uang sebesar Rp100 juta itu, rencananya yang Rp40 juga akan digunakan untuk renovasi kandang. Sisanya sebesar Rp60 juta akan digunakan untuk memberi makan sepasang beruang madu.
Sepasang beruang madu ini dalam sebulan kebutuhannya sekitar Rp5 juta untuk makanan. Selain Indosat, saat ini sudah ada sekitar 11 perusahaan lagi yang berencana memberi donasinya ke KBS. Salah satu di antaranya adalah PT Sinar Galaxy dan PT Ciputra.
"Saat ini sudah ada beberapa perusahaan yang memberi bantuan ke KBS, baik dalam bentuk barang ataupun uang. Perusahaan itu seperti PT Telkomsel, PT Pelindo III, PT Bank Mandiri dan perusahaan es krim Walls," katanya.
Lebih jauh, Fuad mengatakan bentuk bantuan dari PT Pelindo III adalah pembuatan aquarium raksasa. Nilai bantuan untuk pembuatan aquarium ini mencapai Rp2 miliar. Proses pembangunannya sudah mencapai 60 persen. Rencananya, pembangunan diperkirakan selesai pada Maret 2016.
"Donasi dari perusahaan-perusahaan ini sangat penting bagi kami untuk menekan biaya operasional. Tahun lalu kami rugi sekitar Rp770 juta. Tahun ini mungkin kerugian kami mencapai Rp1 miliar. Ini disebabkan biaya operasional yang naik sedangkan tarif masuk KBS tidak naik," katanya.
Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya, Mazlan Mansur dengan tegas menyatakan bahwa, sebenarnya tidak ada pengaruh sama sekali antara sengketa lahan di KBS dengan bantuan dari perusahaan lain.
Sebab, lanjut dia, bantuan yang diberikan adalah untuk satwa dan kandang. Ini tidak ada kaitannya dengan lahan. Sebaliknya, yang harus dikritisi itu pada isi perjanjian antara PDTS KBS dengan perusahaan yang hendak memberi bantuan.
"Nanti kami akan bahas masalah ini di komisi. Kami ingin tahu apa isi perjanjiannya. Hak dan kewajiban apa saja yang tertuang dalam isi perjanjian tersebut," katanya. (*)
Pewarta: Abdul HakimEditor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.