Ikhtiar membangun semangat heroik itu harus dilakukan dengan berbagai cara, apalagi ketika kita semakin sedikit menemukan teladan heroik dari para pemimpin kita
Surabaya (Antara Jatim) - Menteri Sosial Khofifah Indarparawansa mengakui dirinya sering menerima "tamu" dari kalangan muda di Taman Makam Pahlawan (TMP) untuk mengenalkan mereka kepada para pahlawan.

"Ikhtiar membangun semangat heroik itu harus dilakukan dengan berbagai cara, apalagi ketika kita semakin sedikit menemukan teladan heroik dari para pemimpin kita," katanya di Surabaya, Senin.

Dalam diskusi kepahlawan bertajuk "Kupas Tuntas Peristiwa 10 November" di Kantor Biro LKBN Antara Jatim, menteri yang juga Ketua Peringatan Hari Pahlawan Nasional itu menjelaskan anak-anak muda itu tidak pernah terpikir akan diterimanya di TMP Nasional Utama Kalibata, Jakarta.

"TMP itu sarana pembelajaran sejarah yang baik, karena itu saya sering menerima anak-anak muda dari UI, Sekolah Kepolisian, dan sebagainya, yang ingin ketemu saya di TMP Kalibata. Mereka umumnya kaget juga, karena mereka baru tahu tata cara masuk makam pahlawan, seperti memberi hormat, tabur bunga sesuai pilihan," katanya.

Di dalam TMP Nasional Utama di Kalibata itu, ada "teater room" yang bisa memutar film kepahlawanan sesuai daftar dan daftar mana yang dipilih, sehingga terjadi alih nilai-nilai kejuangan.

"Jadi, paketnya cukup lengkap, sehingga tampilan TMP bisa menyenangkan. Lewat APBNP, Kemensos berencana melakukan rehabilitasi tujuh TMP di Indonesia, salah satunya di Surabaya," katanya dalam diskusi dengan narasumber lain, yakni pelaku sejarah/Ketua LVRI Surabaya Hartoyik dan sejarahwan UI Dr Roesdhy Hoesein.

Namun, Pemkot Surabaya ternyata menolak, sebab mereka tidak mengelola TMP Mayjen Sungkono, meski TMP itu ada di Kota Pahlawan, karena TMP itu dikelola Pemprov Jatim.

"Karena ditolak ya dialihkan ke provinsi lain, karena banyak provinsi yang mau merehabilitasi TMP miliknya. Tapi, saya tetap berharap tampilan TMP di Kota Pahlawan tetap bisa dijadikan sentra pembelajaran," katanya.

Dalam diskusi yang dihadiri Ketua Dewan Pengawas LKBN Antara DJ Nachrowi, Direktur Utama LKBN Antara H Saiful Hadi, Bambang Sulistomo (putra Bung Tomo), dan Sabrot D Malioboro (Pusura) itu, Khofifah itu juga mengungkapkan cerita penetapan peringatan Hari Pahlawan Nasional di Tugu Pahlawan Surabaya.

"Saya katakan kalau banyak yang minta Presiden menjadi Irup Hari Pahlawan di Kota Pahlawan. Presiden sempat menanyakan permintaan dari mana, lalu saya lalu sampaikan dan akhirnya beliau memberi paraf untuk peringatan Hari Pahlawan Nasional di Kota Pahlawan Surabaya," katanya.

Selain itu, katanya, susunan acara peringatan Hari Pahlawan Nasional juga diisi nasehat pahlawan dan harapan Generasi 2085. "Harapan Generasi 2085 itu merupakan kapsul waktu yang keliling ke berbagai provinsi untuk merangkum cita-cita generasi muda pada 70 tahun lagi," katanya.

Dalam kesempatan itu, Mensos juga mengenalkan buku "Resolusi Jihad" karya Pustaka Tebuireng, Jombang. "Sejarah itu memang harus ada yang mewariskan dan Resolusi Jihad memang sempat dianggap fiktif, lalu Gus Sholah (Pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, Jatim) mengirimkan surat ke Leiden dan hasilnya dibukukan ini," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama Perum LKBN Antara H Saiful Hadi mengatakan generasi muda banyak yang lupa pada sejarah tentang bagaimana pejuang masa lalu.

"Mereka hanya mendengar dan baca dan tak sepenuhnya memahami dan merealisasikan pada zaman kekinian, karena itu kita melawan lupa dengan mempersembahkan kepada masyarakat, tidak hanya berita kekinian tapi foto dan film masa lalu," katanya.

Pada peringatan Hari Pahlawan 2015, LKBN Antara menggelar dua kegiatan yakni diskusi kepahlawan bertajuk "Kupas Tuntas Peristiwa 10 November" di kantor biro LKBN Antara Jatim dan pameran foto bertajuk "70 Tahun Histori Masa Depan" di Galeri "House of Sampoerna" pada 6-29 November 2015. (*)

Pewarta: Edy M Yakub
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026