Malang (Antara Jatim) - Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, rela tertahan selama sekitar 40 menit di angkasa demi bertemu ribuan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang akan diberi kuliah tamu dengan tema "proxy war". "Saya hanya berputar-putar di angkasa sekitar 40 menit karena tidak bisa mendarat akibat cuaca buruk di sekitar Bandara Abd Saleh Malang. Saya memang diminta untuk mendarat di Juanda, tapi saya tidak mau dan akhirnya harus rela berada di angkasa sekitar 40 menit demi bertemu mahasiswa UMM," katanya sebelum memulai kuliah tamunya di gedung UMM Dome, Senin petang. Seharusnya KSAD memberikan kuliah tamu di hadapan ribuan mahasiswa UMM pukul 13.30 WIB, namun KSAD baru bisa hadir sekitar pukul 16.45 WIB karena tidak bisa mendarat akibat cuaca buruk. Dalam ceramah kuliah tamu tersebut, KSAD memprediksi akan terjadi pergeseran latar belakang dan lokasi konflik dunia. Bila saat ini konflik karena masalah minyak, ke depan bakal ditambah lagi dengan permasalahan bio energi, pangan dan air bersih. Saat ini, katanya, berbagai konflik antarnegara di dunia terjadi karena persaingan untuk menguasai sumber energi. Ia mencontohkan, invasi Irak ke Kuwait pada 1990 mengakibatkan Amerika Serikat (AS) menggelar operasi Desert Storm, berebut sumber minyak di Abyei, Sudan, serta konflik energi di Nigeria, adalah bukti kisruh antarnegara akibat perebutan sumber energi. Materi kuliah tamu yang juga ditukiskan dalam bentuk buku itu, KSAD menjabarkan bahwa data statistik menyebutkan 70 persen konflik yang terjadi di dunia karena perebutan sumber energi. Negara yang memiliki sumber energi fosil seperti minyak, gas dan batubara, menjadi ajang kumpul kepentingan negara adidaya. Selain data statistik tersebut, laporan British Petroleum (BP) pada 2013, menyebutkan sisa energi fosil dunia saat ini usianya tinggal 52 tahun ke depan, dimana energi dunia diprediksi bakal habis pada 2066. Sedangkan Indonesia diperkirakan akan terlebih dulu mengalami kehabisan energi, yakni pada 2024, dengan catatan kebutuhan konsumsi energi tidak melonjak drastis. Menurut KSAD, Indonesia harus bercermin dari runtuhnya dua kerajaan besar di Nusantara, yakni Majapahit dan Sriwijaya. Dua kerajaan ini runtih bukan karena perang atau invasi dari kerajaan lain, melainkan karena konflik internal, sehingga kita semua harus bahu membahu menyatukan semua kekuatan dan potensi yang ada. "Ada banyak negara yang tidak ingin Indonesia menjadi negara maju dengan ekonomi yang kuat dan ketentraman negeri ini selalu diusik dengan berbagai ragam gejolak yang mengarah pada instabilitas sosial ekonomi," tandasnya.(*)


Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2026