Oleh Zubi Mahrofi
Jakarta, (Antara) - Nilai tukar rupiah ditransaksikan pada Selasa pagi menguat, demikian juga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menembus level 5.000.
Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa pagi bergerak menguat sebesar 33 poin menjadi Rp11.679 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp11.712 per dolar AS.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada di Jakarta, Selasa, mengatakan bahwa eforia pemilu presiden masih menjadi salah satu pendorong mata uang rupiah kembali terapresiasi terhadap dolar AS.
"Diharapkan sentimen politik terkait agenda pilpres berjalan lancar dan aman sehingga membuat laju rupiah melanjutkan kenaikan," katanya.
Ia menambahkan bahwa harga minyak mentah dunia yang cenderung mengalami penurunan menambah sentimen positif bagi mata uang rupiah, hal itu dikarenakan dapat mendorong perbaikan kinerja neraca perdagangan Indonesia.
"Harga minyak pagi ini turun sekitar 0,14 persen menjadi 103,39 dolar AS per barel. Turunnya harga minyak diharapkan menjaga momentum penguatan rupiah," katanya.
Dari eksternal, lanjut dia, lembaga dana moneter internasional (IMF) yang menyatakan bahwa masih adanya potensi pemangkasan peringkat pertumbuhan ekonomi global dapat membuat penguatan rupiah tertahan.
"Pernyataan itu memberikan kesan bahwa pertumbuhan ekonomi global masih melambat, termasuk Tiongkok dan beberapa wilayah Asia Pasifik lainnya meski beberapa data manufakturnya mulai mengalami peningkatan," katanya.
IHSG Menguat
Indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa, dibuka naik menembus level 5.000 poin seiring dengan ekspektasi pasar bahwa Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014 akan berjalan lancar.
Indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI dibuka menguat sebesar 19,43 poin atau 0,39 persen ke posisi 5.008,46, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) naik 5,08 poin (0,60 persen) ke level 854,17.
"IHSG BEI masih berada dalam tren penguatan meski diperkirakan hanya dalam periode jangka pendek seiring dengan euforia agenda Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014, diharapkan agenda itu berjalan lancar," kata analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya di Jakarta, Selasa.
Ia menambahkan bahwa pelaku pasar patut mencermati setelah kenaikan indeks BEI pada umumnya akan diselingi oleh koreksi menyusul aksi ambil untung pelaku pasar.
"Kendati demikian, tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika terjadi koreksi indeks BEI karena proses kenaikan selanjutnya akan ditunjang oleh data ekonomi kita yang cukup bagus," katanya.
Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah menambahkan bahwa sentimen positif dari sisi fundamental makroekonomi, Bank Indonesia menyatakan cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2014 mencapai 107,7 miliar dolar AS, meningkat dari posisi akhir Mei 2014 sebesar 107 miliar dolar AS.
"Peningkatan jumlah cadangan devisa tersebut, terutama dipengaruhi transaksi penerimaan devisa hasil ekspor migas pemerintah yang melampaui kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah," katanya.
Bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng melemah 82,86 poin (0,35 persen) ke level 23.558,06; indeks Nikkei turun 62,51 poin (0,41 persen) ke level 15.316,93; dan Straits Times melemah 12,54 poin (0,38 persen) ke posisi 3.279,03.
(*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.