Surabaya (Antara Jatim) - Pengamat politik Himawan Bayu Patriadi menilai bakal Calon Presiden dari Partai Gerindra Prabowo Subianto lebih diuntungkan lewat suara pemilih yang belum menentukan pilihan (swing voters).
"Perilaku pemilih saat pemilihan presiden berbeda dengan perilaku pemilih saat pemilu legislatif. Afiliasi ke partai tak berbanding lurus dengan pilihan kepada sosok presiden," katanya dalam siaran pers, Jumat.
Berdasarkan survei yang digelar Saiful Mujani Reseach and Consulting (SMRC), tren Jokowi dalam lima bulan terakhir menurun, sementara Prabowo naik.
Elektabilitas Jokowi mengalami fluktuasi cukup signifikan: 51 persen pada Desember 2013, 39 persen pada Februari 2014, 52 persen pada Maret 2014, dan terakhir 47 persen setelah pemilu legislatif April 2014.
Sementara elektabilitas Prabowo naik cukup stabil, dari 22 persen pada Desember 2013 menjadi 32 persen, setelah pemilu legislatif 2014.
Saat ini kondisi swing voters atau pemilih cair cukup besar. Peta koalisi yang masih berubah-ubah, termasuk masih adanya sejumlah partai yang belum menentukan pilihan seperti Partai Golkar, Partai Demokrat, dan Partai Hanura, tak banyak mempengaruhi pilihan "swing voters" ini.
Ia mengatakan, mengacu pada pemilu presiden 2004 yang saat itu, berdasarkan hasil tracking sejumlah lembaga survei, pemilih Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) berasal dari pemilih beragam partai.
"Mereka melihat figur daripada partai, kecuali partai yang memiliki segmen massa kuat seperti Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan," katanya.
Ia menilai, dalam kondisi seperti ini yang lebih diuntungkan adalah Prabowo Subianto karena bisa tampil dalam citra calon presiden alternatif, karena Joko Widodo selama ini lebih lekat dengan citra sebagai calon presiden PDI Perjuangan.
Ini berbeda dengan Prabowo yang tak banyak bergantung pada citra Gerindra, karena basis massa pendukung partai berlambang kepala garuda itu memang belum sekuat dan sefanatik PDIP.
"Tapi diuntungkan belum tentu bisa memenangkan. Semua tergantung dari kemampuan Prabowo dan Gerindra untuk memanfaatkan dan mengemas citra itu alternatif," katanya.(*)
Editor : Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.