Surabaya (Antara Jatim) - Kota Surabaya siap menghadapi "ASEAN Economic Community" (AEC) atau masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) yang diberlakukan pada 2015.
"Alasannya, tren pertumbuhan ekonomi di Kota Pahlawan sangat menjanjikan," kata Asisten III Bidang Administrasi Umum Sekretaris Kota (Sekkota) Surabaya Hadisiswanto Anwar di Surabaya, Kamis.
Dalam acara diseminasi "Surabaya Menghadapi AEC 2015" di Ruang Pola Bappeko, Surabaya, ia menyebut pertumbuhan ekonomi pada 2010 tercatat pada angka 5,11 persen.
Pada tahun berikutnya, capaian tersebut meningkat cukup signifikan menjadi 7,35 persen, sedangkan pertumbuhan pada 2012 mencapai sebesar 7,64 persen.
Acara tersebut menghadirkan enam pembicara, antara lain Senior Officer Finance Integration Division pada Sekretariat ASEAN Bambang Irawan, dan Kasubdit Perindustrian dan Perdagangan Kemenlu Lingga Setiawan.
Selain itu, Kabid ASEAN Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Dalyono, dan Direktur Kerjasama ASEAN pada Kemendag Djatmiko Wijtaksono.
Berikutnya, Dirjen PAUDNI Kemendikbud Lydia Freyani Hawadi, serta Kasubdit Kerjasama Regional ASEAN Dirjen Kerjasama Regional pada Badan Koordinasi Penanaman Modal Amri Zuhdi.
Hadi mengatakan demi mempersiapkan diri menghadapi AEC 2015, Pemkot Surabaya sudah melaksanakan sejumlah agenda, di antaranya pendirian rumah bahasa yang bertujuan agar masyarakat dapat belajar berbahasa asing secara gratis.
Rumah bahasa yang berlokasi di Gedung Balai Budaya juga terintegrasi dengan klinik jasa dan perdagangan, koperasi dan UMKM, ketenagakerjaan, dan investasi.
Ia mengharapkan melalui klinik-klinik itulah, masyarakat mendapat akses seluas-luasnya seputar dunia usaha.
"Kita harus siap menghadapi tantangan ini tidak peduli kalau harus bersaing dengan orang-orang dari luar negeri. Oleh karenanya, warga Surabaya tidak boleh kalah. Harus bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri," ujarnya.
Senior Officer Finance Integration Division pada Sekretariat ASEAN Bambang Irawan menjelaskan tentang latar belakang serta pemahaman tentang AEC 2015.
"Secara umum AEC adalah kelanjutan dari integrasi ekonomi mengubah ASEAN menjadi pasar tunggal dan sumber produksi mulai 2015," ujarnya.
Kesepakatan antarnegara-negara di Asia Tenggara tersebut, lanjut dia, dilandasi empat pilar utama, yakni produksi berbasis pasar tunggal, ekonomi regional yang kompetitif, pengembangan perekonomian yang merata, dan integrasi dengan perekonomian global.
Adapun tujuan utama dari AEC yaitu membuka kran interaksi barang, jasa, produksi, investasi dan modal, serta penghapusan tarif bagi perdagangan antarsesama negara ASEAN.
Arus transaksi nantinya akan difokuskan pada 12 sektor prioritas yang terbagi dalam tujuh sektor barang dan lima sektor jasa.
Sektor barang meliputi produk pertanian, otomotif, elektronik, perikanan, produk berbasis karet, tekstil, dan produk olahan kayu.
Untuk sektor jasa terdiri atas jasa penerbangan, e-ASEAN, kesehatan, pariwisata, dan penyediaan logistik.
Ke-12 sektor prioritas tersebut menuntut kesiapan sumber daya manusia (SDM).
"Untuk itu, ada 18 sektor pergerakan SDM yang patut mendapat perhatian, di antaranya meliputi akuntan, tenaga bidang maritim, telekomunikasi, komputer, dan arsitek," katanya. (*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.