Tulungagung (Antara Jatim) - Detasemen Khusus 88 Antiteror dikabarkan meningkatkan kegiatan operasi intelijen di wilayah eks-Karesidenan Mataraman selama tiga hari terakhir, menyusul penangkapan dua terduga teroris di wilayah Kenjeran, Surabaya pada Senin (20/1) malam. Satuan "burung hantu" bahkan sempat mengobok-obok beberapa wilayah di Kediri dan Tulungagung pada Selasa (21/1) malam hingga Rabu, namun sasaran dan hasil operasi senyap mereka belum terkonfirmasi wartawan. Kapolres Tulungagung AKBP Whisnu Hermawan Februanto mengakui adanya peningkatan keamanan di wilayahnya, maupun polres jajaran se-Jawa Timur. Namun, ia mengaku tak bisa mengklarifikasi keberadaan tim Densus 88 Antiteror maupun gerakan mereka, karena satuan burung hantu ini memiliki pola operasi intelijen yang tertutup dan tidak terhubung langsung dengan jajaran kepolisian di daerah. "Semalam (Selasa malam) saya memang sempat ditelepon (tim densus), diberitahu jika ada kegiatan di sini. Tapi persisnya di mana dan sasarannya apa saya juga tidak tahu," jawab Whisnu saat dikonfirmasi wartawan. Informasi yang berkembang, tim Densus 88 Antiteror kembali menyasar wilayah Kecamatan Pagerwojo, daerah yang setahun lalu menjadi sasaran penggerebekan hingga dua terduga teroris berhasil ditembak mati. Namun, saat isu tersebut dikonfirmasikan ke sejumlah narasumber di wilayah Pagerwojo, tak satupun bisa mengklarifikasi. Menurut penjelasan Whisnu, kegiatan pengintaian yang dilakukan tim densus pola "operasi senyap", sehingga tak akan mudah diidentifikasi oleh masyarakat biasa, bahkan jajaran kepolisian di daerah dan TNI. "Mereka bisa bergerak dengan menyamar sebagai orang gila, pemulung, atau lainnya. Mereka sangat terlatih untuk melakukan kegiatan penyamaran dan pengintaian, bahkan meski harus menginap di tengah hutan maupun wilayah pedalaman yang sulit," jelasnya. Soal ada atau tidaknya sel teroris di wilayah Tulungagung, Whisnu tidak menjawabnya secara lugas. Ia hanya memberi isyarat bahwa saat ini pengamanan diperketat, salah satunya dengan melakukan pendataan tempat-tempat kost, rumah kontrakan maupun rumah kosong di seluruh wilayah Tulungagung. Puluhan anggota dari satuan intelijen dan babinkamtibmas disebar hingga pelosok-pelosok desa. Beberapa tempat layanan umum seperti SPBU atau mushalla yang berpotensi digunakan persinggahan jaringan teroris juga dilakukan pemantauan secara khusus. "Ini imbas penangkapan dua terduga teroris di wilayah Kedungcowek, Kenjeran, Surabaya beberapa waktu lalu sehingga pengamanan di seluruh jajaran kepolisian se-Polda Jatim diperketat," ujarnya. (*)


Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026