Surabaya (Antara Jatim) - Puluhan suporter Persebaya 1927 atau bonekmania mendatangi gedung DPRD Surabaya, Selasa, meminta agar dimediasi dengan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini agar Persebaya 1927 mendapat pengakuan PSSI. "Kedatangan kami ke sini (DPRD Surabaya) minta dukungan secara politik. Karena sepak bola indonesia penuh dengan politik," ujar koodinator Bonekmania Persebaya 1927 Andi Peci saat rapat dengar pendapat di ruang Komisi D DPRD Surabaya, Selasa. Menurut dia, pihaknya meminta agar Persebaya yang musim lalu berkempetisi di IPL mendapatkan pengakuan dari Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) karena Persebaya memiliki sejarah besar dan aset Pemkot Surabaya. "Kedatangan kami ke sini adalah minta dukungan secara politik. Karena sepak bola Indonesia penuh dengan politik," ujarnya. Ia menjelaskan konflik politik Persebaya dimulai 2007 dan muncul PT Persebaya Indonesia pada 2009 yang diakui PSSI. Pada 2010 Persebaya 1927 didolimi, kemudian tahun 2011 membuat kompetisi IPL. Masalah muncul saat PSSI tidak mengakui klub-klub yang berkompetisi di IPL, salah satunya Persebaya 1927. Andi mengaku pernah mendatangi Wali Kota Surabaya pada Maret 2013. Hasil dari pertemuan itu wali kota melarang Persebaya bertanding di Surabaya. Selain itu, wali kota berjanji akan menemui Menpora menyelesaikan dualisme Persebaya. "Sampai sekarang tidak pernah terealisir. Maka pada 3 Januari, kami demo di Balai Kota untuk menagih janji, sayang tidak ditemui," akunya. Konflik dualisme Persebaya sudah mengarah pada kekerasan fisik. Andi mengaku pernah dianiaya oleh orang tidak dikenal. Selain itu, anggota bonekmania 1927 pernah diculik. Untuk itu, Andi meminta selama ada dualisme Persebaya, tidak ada laga bola di Surabaya. Salah satu pengurus klub Indonesia Muda yang masuk anggota Persebaya 1927 Supriyono menambahkan, dualisme akan mematikan talenta-talenta Persebaya 1927. Tidak hanya itu, prestasi Persebaya jeblok. "Kami ingin Persebaya kembali ke awal, menjadi milik masyarakat, bukan milik perorangan," kanya. Dia mengaku ada isu tak sedap mencuat belakangan ini. Pengurus Persebaya ISL sudah menjual saham. Dia meminta sebelum Kongres PSSI tanggal 26 Januari di Shangri-la Surabaya, masalah dualisme sudah bisa terurai. "Minimal kami bisa bertemu dengan wali kota," tandasnya. Ketua DPRD Surabaya, Muchammad Machmud berjanji akan menyampaikan aspirasi bonek. Keinginan bonek 1927 yang meminta Wali Kota Surabaya mengambil alih Persebaya cukup baik. Upaya itu cukup efektif untuk menyatukan Persebaya ISL dan Persebaya 1927. "Keinginan saya potensi di Surabaya dimaksimalkan mungkin. Khusunya Persebaya. Dulu jaya, sekarang muncul kelompok-kelompok. Saya tidak berpihak ke kelompok manapun, cuma ingin Persebaya kembali baik dan jaya," ujarnya. Menurutnya, wali kota harus mengambil langkah tegas untuk menyelesaikan dualisme Persebaya. DPRD Surabaya akan membantu memediasi keinginan bonek bertemu dengan orang nomor satu di Kota Pahlawan itu. "Kami berusaha membantu sesuai dengan tupoksi DPRD. Akan kami sampaikan ke Wali kota karena saya ingin prestasi di lapangan tidak ruwet seperti masalah sekarang ini yang ruwet," katanya. (*)


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026