Surabaya (Antara Jatim) - Sejumlah pakar dari ITS Surabaya dalam "Refleksi Teknologi 2013 dan Rekomendasi Teknologi 2014" di Plasa Dr Angka, Kampus ITS Keputih-Sukolilo, Surabaya, Kamis, menyimpulkan teknologi bangsa sendiri belum sepenuhnya dipercaya selama kurun 2013. "Secara teknologi dan sumber daya alam sebenarnya kita sangat mampu, tapi kita belum percaya kepada ahli teknologi kita sendiri," kata pakar energi ITS Prof Dr Eng Prabowo dalam diskusi yang juga menampilkan pakar otomotif, transportasi, statistik, dan pakar bencana ITS itu. Dalam diskusi yang dimeriahkan dengan pameran hasil karya cipta mahasiswa itu, Prof Prabowo yang juga Guru Besar Teknik Mesin itu menjelaskan era global saat ini mengarah ke energi non-fosil dan energi terbarukan. "Karena itu sikap pro-teknologi itulah yang penting untuk kita, apalagi kita sebenarnya mampu secara teknologi, karena itu kepercayaan kepada kemampuan teknologi sendiri itu sangat penting. Kalau kita percaya pada teknologi sendiri, maka perhatian harus dialihkan ke sana," katanya. Ia mencontohkan pohon Jarak yang jumlahnya cukup banyak dan teknologi yang mampu mengolah pohon Jarak menjadi energi pun dimiliki ahli teknologi Indonesia, namun energi terbarukan itu belum berkembang. "Kalau kita punya kepercayaan kepada teknologi sendiri, maka pemerintah harus memberikan investasi besar-besaran, bahkan kalau perlu juga menghapus subsidi untuk energi fosil dan dialihkan pada subsidi untuk energi non-fosil," katanya. Hal yang sama juga dikemukakan ahli otomotif ITS Dr Nur Yuniarto. "Kemampuan kita dalam bidang otomotif sebenarnya tidak kalah dari negara lain, seperti mobil listrik, mobil nasional, dan sejenisnya," katanya. Namun, kemampuan dalam bidang teknologi otomotif itu kalah dalam aspek pasar. "Itu karena pasar kita sudah dikuasai bangsa lain, tapi kalau kita jeli, sebenarnya bisa mengarah ke pasar yang berbeda yakni bergerak dalam mobil off-road dan komponen mobil," katanya. Senada dengan itu, pakar statistik ITS Kresnayana Yahya MSc menegaskan bahwa negara lain sebenarnya sangat berharap kepada Indonesia dalam bidang otomotif dan elektronik, namun bangsa Indonesia belum berani mengubah orientasi dari industri yang ada. "Industri kita masih ekspor bahan baku, padahal orientasi industri seperti itu justru membuat perbandingan ekspor dan impor kita hanya selisih lima persen, karena itu saya setuju kalau kita beralih pada kemampuan teknologi kita sendiri," katanya. Menurut dia, jika orientasi untuk beralih kepada kemampuan teknologi sendiri pada 2014 itu tidak dilakukan, maka bangsa Indonesia akan kalah bersaing dalam era ASEAN Community 2015. "Kita jangan ekspor bahan baku, tapi manfaatkan teknologi untuk nilai tambah," katanya. Sementara itu, pakar transportasi ITS Dr Hera Widyastuti mengatakan teknologi transportasi juga dimiliki bangsa Indonesia. "Teknologi transportasi sekarang mengarah kepada transportasi massal dan kita harus mengarah ke sana, karena angkutan pribadi sudah memacetkan jalan," katanya. Hal yang sama juga dikemukakan pakar bencana ITS Dr Amien Widodo. "Teknologi penanganan bencana juga sudah mulai berkembang, karena pakar banjir saja sudah banyak di ITS, tapi banjir di Surabaya masih ada," katanya. Oleh karena itu, dirinya bersama sejumlah rekannya sedang merancang alat deteksi banjir, gempa, dan sebagainya. "Tapi, alat deteksi yang terhubung dengan telepon seluler itu masih belum selesai, insya-Allah akan selesai dalam beberapa bulan lagi," katanya. Namun, kata ahli geologi itu, teknologi penanggulangan bencana itu tetap memerlukan dukungan manajemen penanggulangan bencana dalam empat tahap yakni gunung, sungai, bantaran sungai, dan perilaku manusia. "Gunung harus ditata peruntukannya dan ditanami lagi, sungai yang dangkal harus banyak dikeruk dan ditanami mangrove sebagai penyangga, bantaran sungai harus dihindari untuk hunian, dan perilaku membuang sampah sembarangan harus diatur dengan regulasi yang ketat," katanya. Sebelumnya (18/12), ITS, Asosiasi Energi Laut Indonesia (Aseli), dan Japan International Cooperation Agency (JICA) mengadakan pertemuan "International Ocean Energy Workshop" untuk mengembangkan energi laut. "Indonesia dapat menjadi center of ocean energy di Asia Tenggara," ujar Prof YasuyukiIkegami dari Saga University dalam pertemuan yang juga menyepakati kerja sama internasional antara Aseli dan OEAJ, ITS dan Saga University, serta Mitsubishi Heavy Industry dan PT Terafulk Mengantara itu. (*)


Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026