Malang (Antara Jatim) - Wakil Ketua MPR RI Hajrianto Y Thohari mengajak orang-orang yang berkecimpung di bidang politik untuk menggeluti bidang itu secara jantan, tampil elegan apa adanya, tanpa perlu merasa khawatir atau takut. "Jangan takut menjadi orang partai politik (parpol). Namun kalau berpolitik itu yang jantan," tegasnya ketika menjadi pembicara dalam Refleksi AKhir Tahun Bidang politik dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di aula BAU kampus setempat, Selasa. Menurut Hajriyanto, kalau berpolitik hendaknya tampil apa adanya, tidak perlu menggunakan kedok lain, seperti jubah kiai, akademisi, lembaga nonpemerintah atau yang lainnya. "Padahal, ujung-ujungnya juga politik," ucapnya. Kondisi perpolitikan dan parpol di Tanah Air, katanya, memang perlu perbaikan, termasuk pelaksanaan demokrasi yang masih dalam masa transisi. Jika sukses melahirkan pemimpin harapan rakyat, maka usailah masa transisi dan alam demokrasi sudah benar-benar dimulai. Akan tetapi, lanjutnya, jika tidak, maka bangsa ini harus menunggu lebih lama lagi untuk melewati transisi ini. Salah satu hal yang bisa menjamin terwujudnya hal itu adalah tampilnya para pemimpin bersih yang membersihkan. "Di tingkat elit, ada pemimpin yang bersih dan ada yang kotor, sayangnya kebanyakan pemimpin yang bersih adalah yang tidak berani membersihkan," tandasnya. Bahkan, yang menjadi problem saat ini, makin banyak Undang-undang antikorupsi makin banyak pula koruptornya, dan kian lantang orang melawan korupsi kian kencang pula korupsinya. Bahkan, yang bicara lantang justru ikut-ikutan korupsi. Senada dengan Hajriyanto, pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Siti Zuhro mengatakan praktik demokrasi di Indonesia yang banyak mendapat sanjungan dari dunia internasional hanya sebagai kamuflase dengan salto-salto politik dan demokrasi. "Sistem demokrasi dan par pol kita harus diperbaiki, bukan justru dirusak dengan perubahan-perubahan fundamenta. Karena tak adanya sistem perpolitikan yang bagus itulah, akhirnya parpol bermunculan silih berganti dengan orang-orang dan pengurus yang sama karena ujung-ujungnya tetap saja desimal," tandasnya. Sementara Sekretaris Program Studi Doktor (S3) FISIP UMM Wahyudi menyatakan bangsa Indonesia terlalu bangga dengan cap yang sangat bagus dari dunia internasional terkait pelaksanaan demokrasi yang telah dicapai. Padahal, kondisi demokrasi di negeri ini sesungguhnya masih rapuh. "Sistem kaderisasi parpol di negeri kita ini masih macet, kalaupun ada itu hanya di tingkat elit ke elit, bukan dari masyarakat bawah. Sebenarnya banyak orang-orang baik dan bersih di negeri ini, tapi mereka tidak punya modal untuk berpolitik," ujarnya. Sedangkan Rektor UMM Dr Muhadjir Effendi dalam sambutannya mengatakan kegiatan refleksi akhir tahun tersebut sebagai evaluasi politik sekaligus menentukan langkah ke depan. "Tahun depan adalah tahun politik, tapi kita belum ada bayangan siapa yang bakal jadi pemimpin, sebab itulah pembacaan arah bangsa saat ini menjadi sangat penting untuk menentukan pemimpin lima tahun ke depan," ujarnya, tandasnya. (*)


Editor : Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026