Dari sekian banyak sumber energi yang ada di masyarakat, baterai termasuk salah satu yang memiliki peranan sangat besar bagi kebutuhan manusia. Baterai merupakan sumber energi listrik yang sangat diandalkan untuk mengoperasikan peralatan elektronik yang bersifat portabel. Berdasarkan kepraktisan itulah maka diciptakan benda yang dapat menyimpan sumber energi listrik dalam kurun waktu tertentu. Masalahnya, tidak banyak masyarakat yang menyadari bahwa limbah baterai yang dibuang sembarangan, termasuk dalam kategori limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), karena kandungan zat kimia yang ada dapat mencemari air tanah dan kesehatan lingkungan. Realitas itu mendorong mahasiswi Jurusan PSP Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (WM) Surabaya, Tri Lestari, mengembangkan penelitian terkait hal itu. Tari meneliti "Pengaruh Komposisi Campuran Potasium, MSG, dan Pocari Sweat pada Elektrolit Belimbing Wuluh terhadap Kuat Arus" yang intinya mencoba mengganti elektrolit mangan (MnO2) pada baterai yang sudah habis agar baterai tidak dibuang begitu saja. Caranya, pegiat/aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) serta Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) itu menggunakan tiga campuran pembanding yakni belimbing wuluh-potasium, belimbing wuluh-MSG, dan belimbing wuluh-Pocari Sweat. "Hasilnya, kuat arus tertinggi diperoleh dari perlakuan terhadap 20 gram belimbing wuluh dicampur dengan 5 gram Pocari Sweat serta tepung Carboxymethyl Cellulose (CMC) sebagai bahan pengental cairan," ucapnya. Mahasiswa Aktif Berprestasi FKIP Jurusan PSP Fisika WM tahun 2013 itu memilih belimbing wuluh sebagai sumber pengganti elektrolit karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan buah asam ini. "Faktanya, saya sering menemukan belimbing wuluh yang sudah tua itu jatuh dari pohon dan membusuk tanpa ada yang mengolahnya, padahal di Surabaya (Jawa) sangat mudah menemukan pohon belimbing wuluh. Sayangnya sangat sedikit sekali pihak yang memanfaatkannya," ujarnya. Lain belimbing wuluh, lain lagi kacang merah yang diteliti mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Katolik Widya Mandala (WM) Surabaya, Richard Wang, yang juga menjadi salah satu Mahasiswa Aktif Berprestasi WM Surabaya. Penelitian dari peraih Indeks Prestasi Kumulatif 3,19 dengan judul "Karakteristik Sifat Fungsional Kacang Merah Rebus dengan Variasi Waktu Perebusan" itu dilatarbelakangi oleh maraknya impor kedelai oleh pemerintah. Nah, Richard pun melihat kacang merah sebagai alternatif produk pangan mirip kedelai yang tak kalah tinggi nilai proteinnya, bahkan ia pun bisa menentukan waktu perebusan kacang merah rebus yang pas untuk pembuatan "cake". "Kacang merah mampu menggantikan lemak yang kerap dihindari masyarakat," tutur mantan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) dan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) itu. Kulit Kacang Antioksidan Tidak kalah menariknya adalah penelitian mahasiswa Jurusan Teknik Kimia WM, Rendy Christian Diharja, yang menemukan kulit kacang tanah yang menghasilkan antioksidan alami untuk memperbaiki kualitas minyak kacang tanah. "Saat ini, minyak kacang lebih dikenal oleh masyarakat untuk bahan memasak karena minyak kacang memiliki kandungan yang lebih sehat dibandingkan dengan minyak goreng biasa," papar peneliti Limbah Kulit Kacang Tanah dengan Metode Domestic Microwave Maceration itu. Namun, pengolahan kulit kacang tanah sebagai bahan dasar pembuatan minyak kacang dirasa belum maksimal sehingga kualitas yang dihasilkan pun kurang maksimal. "Agar kualitas minyak kacang maksimal untuk home industry, maka saya melakukan percobaan dengan mengekstraksi limbah kulit kacang tanah dengan menggunakan microwave," tukasnya. Menurut dia, keunggulan menggunakan microwave adalah waktu ekstraksi menjadi singkat, jumlah pelarut yang dibutuhkan sedikit, energi listrik yang digunakan sedikit dan dapat menggunakan microwave biasa. "Dengan diperolehnya antioksidan alami dalam proses itu, maka kualitas optimum yang dapat ditambahkan ke dalam minyak kacang agar minyak kacang tidak tengik dan tahan lama," katanya. Selain itu, masyarakat dapat memanfaatkan antioksidan alami dari kulit kacang tanah untuk makanan agar lebih tahan lama dan sehat bagi tubuh. "Hasil percobaan adalah ekstrak kulit kacang tanah dapat digunakan sebagai antioksidan alami yang mampu meningkatkan kualitas minyak kacang pada industri rumahan," katanya. I mengaku tertarik meneliti kulit kacang tanah, karena banyak sekali limbah kulit kacang yang dibuang sia-sia, padahal limbah tersebut masih bisa dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat sehari-hari. "Salah satunya ya topik ini, yakni limbah kulit kacang tersebut mempunyai senyawa fenolik yang bisa dimanfaatkan sebagai antioksidan alami," tandasnya. Ekstrak senyawa fenolik dari kulit kacang tersebut dapat ditambahkan ke dalam minyak kacang tanah yang saat ini banyak digunakan oleh masyarakat sebagai minyak goreng, dasar pembuatan margarine, mayonaise, salad dressing, dan mentega putih karena lebih baik bagi kesehatan. "Minyak kacang perlu ditambahi suatu antioksidan, karena minyak kacang itu mengandung asam linoleat yang cukup tinggi, sehingga bisa mengganggu kestabilan minyak itu sendiri yaitu hanya bisa dipakai satu kali pemakaian. Namun, antiosidannya bisa melalui kulit kacang itu sendiri," kilahnya. Tidak hanya itu, metode untuk mengekstrak senyawa fenolik dari limbah kulit kacang ini merupakan metode yang unik dan termasuk baru di Indonesia. Metode itu didesain sendiri oleh Rendy dengan mengadopsi metode Microwave Assisted Extraction (MAE) yang menggabungkan ektraksi dengan domestic microwave dan perendaman (maceration) kulit kacang dalam pelarut. "Jadilah suatu metode baru dengan prinsip yang sama dengan MAE yaitu Domestic Microwave Maceration Extraction (DMME). Metode ini dilakukan karena alat dari MAE sangat mahal dan belum ada di Indonesia," timpalnya. (*)


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026