Beijing (Antara) - Duta Besar RI untuk China merangkap Mongolia Imron Cotan mengatakan Indonesia memerlukan kontrak sosial baru untuk mewujudkan Indonesia baru yang lebih baik dalam lima tahun kedepan. "Indonesia kini masih diwarnai isu-isu primodial, yang cenderung mempertentangkan atau memecah belah antarkelompok masyarakat kita," katanya pada seminar "Mereta Pemilu 2014" di Beijing, Minggu. Dalam seminar yang diselenggarakan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok itu, ia mengatakan, "seharusnya isu-isu primodial sudah ditinggalkan Indonesia sejak 30 tahun lalu, sehingga Indonesia menjadi lebih baik, lebih solid dan bersatu". Imron menuturkan Indonesia telah bersumpah untuk menjadi bangsa dan negara yang lebih bersatu dan berdaulat. "Itu yang harus kita tegaskan lagi, utamanya di masa mendatang melalui kontrak sosial baru pasca Pemilu 2014," ujarnya. Terkait mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan solid, partisipasi Pemilu 2014 harus ditingkatkan. "Satu suara itu sangat penting untuk mempengaruhi masa depan Indonesia yang lebih baik, yang lebih bersatu," ujar Imron. Pemilu 2014 diharapkan juga dapat melahirkan pemerintahan yang lebih solid, lebih stabil, dan memiliki kontinuitas terhadap setiap program pembangunan yang telah dijalankan baik oleh pemerintahan sebelumnya, sehingga pembangunan Indonesia kedepan lebih terarah dan berkesinambungan, tuturnya. Kontrak sosial baru juga perlu untuk mendukung hubungan yang tetap baik antara pemimpin sebelumnya dengan pemimpin yang baru, sehingga benar-benar tercipta Indonesia yang satu, solid untuk membangun lebih baik di masa datang. Imron mengakui riak-riak sosial yang terjadi dikarenakan Indonesia masih menjalani proses demokrasi yang diharapkan semakin matang di masa datang. "Pilihan politik untuk menjadi demokratis tentu memiliki konsekuensi tersendiri, termasuk munculnya riak-riak sosial seperti isu primodialisme dan lain-lain. Itulah pentingnya kontrak sosial baru agar Indonesia lebih baru dan lebih baik," ucapnya, menegaskan. Seminar "Mereta Pemilu 2014" menampilkan pembicara Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Relations (CSIS) Rizal Sukma dan peneliti Departemen Politik dan Hubungan Internasional CSIS Alexandra Retno Wulan.(*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026