Pacitan (Antara Jatim) - Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, mengalami kesulitan mendeteksi tingkat/intensitas pencemaran sungai-sungai di sekitar area pertambangan tembaga di Desa Kluwih, Kecamatan Tulakan, karena tidak adanya data spesifik menyangkut debit air.
Kepala Distamben Pacitan, Sar Setyo Utomo, Sabtu, mengatakan proses evaluasi tingkat cemaran sungai terkendala pada perubahan musim serta akurasi data debit air yang keluar dari area pertambangan tembaga Desa Kluwih.
"Kami susah menduga berapa sebetulnya luapan air yang keluar dari mulut tambang," ujarnya.
Menurut dia, tingkat luapan air dari dalam kawasan tambang akan terus meningkat mengikuti intensitas hujan. Artinya, semakin tinggi curah hujan, maka luapan akan kian besar. Sehingga zat-zat polutan yang terbawa akan semakin besar pula volumenya.
Karena itu pihak distamben meminta pihak perusahaan untuk segera menghitung ulang debit air pencemar tersebut. Pencemaran sungai-sungai di sekitar area pertambangan tembaga Desa Kluwih kembali mencuat, menyusul investigasi yang dilakukan pihak Komnas HAM di Kabupaten Pacitan, beberapa waktu lalu.
Ketua Komnas HAM, Siti Noor Laila, bahkan turun langsung memimpin investigasi untuk menindaklanjuti laporan-laporan warga.
Hasilnya, Komnas HAM menemukan fakta bahwa pencemaran dari lokasi tambang terjadi karena perusahaan belum mampu memisahkan unsur logam berat jenis Zn atau seng, tembaga, serta air.
Akibatnya, saat musim penghujan tiba IPAL (instalasi pengolahan air limbah) tak mampu menampung air berpolutan logam berat sehingga meluber ke aliran sungai/lingkungan.
Komnas HAM juga sempat mendokumentasi bukti cemaran yang masih terlihat di aliran anak sungai Lorok, dimana warna batu-batu berubah kekuningan seperti karat serta ikan dan biota sungai lain yang kedapatan mati dalam jumlah banyak.
"Kami telah meminta perusahaan untuk selalu melakukan perbaikan fasilitas IPAL mereka," tandas Sar Setyo. (*)
Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.