Surabaya (Antara Jatim) - Sebanyak 15.500 lembar uang palsu senilai Rp1,3 miliar beredar di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur yang meliputi Surabaya, Malang, Kediri, dan Jember selama semester I tahun 2013. "Untuk itu, kami minta masyarakat selalu waspada. Apalagi, pada bulan puasa dan jelang Lebaran 1434 Hijriah karena banyak oknum tak bertanggung jawab sengaja mengedarkan uang palsu," kata Direktur Perwakilan BI Wilayah IV, Hamid Ponco Wibowo, di Surabaya, Kamis. Mengenai lokasi potensial peredaran uang palsu, ia menengarai, tampak di pinggir jalan di mana banyak orang menawarkan jasa penukaran uang kartal baik pecahan besar hingga kecil. Biasanya, pada penukaran uang di lokasi tersebut banyak terselip uang palsu dan kadang jumlah uangnya kurang. "Lebih baik lakukan penukaran uang di untuk keperluan Lebaran mendatang di tempat-tempat resmi seperti bank umum dan BPR," ujarnya. Jika dibandingkan tahun 2012, jelas dia, peredaran uang palsu di wilayah kerjanya mencapai sebanyak 24.631 lembar. Angka tersebut setara dengan Rp2,1 miliar. "Kalau pada semester I/2013 sudah sebanyak 15.500 lembar atau nilainya setara Rp1,3 miliar, berarti tren sekarang ada kecenderungan meningkat," katanya. Untuk meminimalkan maraknya peredaran uang palsu jelang Lebaran 1434 H, tambah dia, pihaknya menugaskan kalangan perbankan di 500 titik di wilayah Bank Indonesia Jawa Timur guna melayani penukaran uang masyarakat. "Ratusan outlet penukaran uang itu menyebar di seluruh wilayah Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Lamongan, Jombang, Bojonegoro, dan Madura yakni berada di kantor cabang/cabang pembantu/kantor kas/outlet bank umum dan BPR," katanya. Secara nominal, sebut dia, total uang yang disiapkan BI untuk penukaran uang masyarakat jelang Lebaran mendatang mencapai Rp11,9 trilun lebih. Jumlah tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di Jawa Timur. "Komposisi uang yang disediakan meliputi Rp1,6 triliun uang pecahan kecil dan Rp10,3 triliun uang pecahan besar," katanya. Layanan penukaran uang, lanjut dia, sudah dimulai sejak tanggal 9 Juli 2013. Pada masa sekarang, ketersediaan uang pecahan Rp2.000 lebih banyak atau mencapai Rp290,6 miliar dibandingkan momentum sama tahun 2012 sebanyak Rp195 miliar. "Lalu uang pecahan Rp5 ribu mencapai Rp366 miliar pada tahun 2012 dan saat ini naik menjadi Rp427 miliar. Upaya mempersiapkan uang pecahan besar sekaligus mengantisipasi penyaluran BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat)," katanya. (*)


Editor : Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026