Oleh Muhammad Razi Rahman Sejak zaman baheula, cerita romantis mengenai hubungan antara kedua insan yang memiliki perbedaan selalu menjadi topik yang menarik untuk dikisahkan. Ambil contoh cerita legendaris Romeo Juliet yang ditulis oleh pujangga besar asal Inggris, William Shakespeare (1564-1616), yang mengisahkan kisah percintaan antara dua manusia dari keluarga yang berbeda dalam setting Italia kuno. Selain itu, kisah cinta yang berbeda seperti dari latar belakang yang berbeda-beda (contoh, sang perempuan dari keluarga melarat namun sang lelaki dari keluarga ningrat) juga kerap kita temui di sejumlah sinetron dan telenovela. Dalam film "Upside Down" (2013) besutan sutradara asal Argentina, Juan Diego Solanas, perbedaan yang disuguhkan tidak hanya soal perbedaan pandangan dalam keluarga atau status sosial. Namun lebih dari itu, film berdurasi 107 menit itu mengisahkan tentang dua dunia yang memiliki gravitasi yang berbeda tetapi menyatu. Dunia "Upside Down" merupakan dua planet yang tergabung satu sama lain, di mana satu bagian dinamakan Up Top tempat orang-orang kaya berada. Di Up Top, terdapat gedung-gedung yang mewah dan tinggi serta kultur kebangsawanan yang mencolok, dan juga menjadi tempat tinggal seorang perempuan bernama Eden Moore (diperankan Kirsten Dunst). Sementara planet lainnya, dengan gravitasi yang berbeda 180 derajat dengan bagian Up Top, adalah daerah Down Below merupakan kisah tempat orang-orang miskin berada. Di antara masyarakat Down Below yang masih hidup dengan sistem yang otoriter dan tidak sejahtera itu, hiduplah seorang pemuda cerdas bernama Adam Kirk (diperankan Jim Sturgess). Dengan gravitasi yang berbeda, maka kedua warga dua dunia itu juga sulit untuk berkomunikasi satu sama lain. Belum lagi dengan adanya hukum alam yang menyebutkan bahwa bila dua benda dari dua dunia itu saling bersatu, maka mereka akan terbakar keduanya. Namun, dua dunia itu terhubung oleh gedung tinggi yang memiliki fondasinya di masing-masing dunia, yang dimiliki oleh perusahaan TransWorld. Meski perusahaan Transworld dimiliki oleh kalangan Up Top, tapi para pegawai yang bekerja untuk perusahaan tersebut juga banyak yang berasal dari masyarakat Down Below. Selain gedung Transworld, kedua dunia itu sebenarnya juga terhubung oleh pegunungan tinggi yang dinamakan Sage Mountains, tempat di mana Adam kerap mencari serbuk merah jambu yang ajaib bagi bibinya yang bernama Becky. Alkisah, pada suatu hari Adam sedang mencari serbuk merah jambu, ia memanjat pegunungan tersebut hingga sangat tinggi sehingga ia berada di daerah perbatasan dengan Up Top dan secara tidak sengaja bertemu dengan warga Top Up bernama Eden. Berawal dari pertemuan tersebut, keduanya saling berbagi cerita meski dari dunia yang berbeda, dan bahkan muncul benih percintaan di antara mereka. Namun pada suatu ketika, saat Adam berupaya menarik Eden ke dunianya dengan seutas tali, petugas perbatasan kedua dunia mengetahui hal tersebut dan segera memisahkan mereka (karena kontak yang tidak perlu antara kedua dunia sangat dilarang). Upaya pemisahan itu mengakibatkan Adam masuk ke dalam penjara selama bertahun-tahun dan Eden mengalami kecelakaan terjatuh dari dunia yang berbeda dan mengalami amnesia. Kisah dalam film tersebut kemudian berlanjut hingga 10 tahun kemudian, di mana Adam telah menjadi seorang penemu muda yang cerdas yang dapat membuat formula krim kecantikan dengan menggunakan serbuk merah jambunya yang ajaib tersebut. Saat bersama dengan penemu lainnya di Down Below, Adam tidak sengaja menonton acara televisi yang memperlihatkan sosok Eden yang kini bekerja di Transworld. Mengetahui bahwa kekasih lamanya masih hidup, maka Adam dengan segera melamar ke Transworld agar dapat bertemu kembali dengan Eden. Dengan kecerdasannya dan formula krim kecantikan yang dibuatnya, Adam dapat diterima bekerja di Transworld. Di dalam perusahaan tersebut, ia juga berteman dengan seorang pekerja dari dunia Top Up bernama Bob Bercuchovitz (Timothy Spall), yang membantu Adam agar dapat bertemu Eden kembali. Adam segera menyusun rencana untuk melawan gravitasi dunianya dan agar dapat mengembara di Top Up untuk bertemu Eden. Nahasnya, saat bertemu, Eden yang mengalami amnesia tidak mengenali Adam. Bahkan, Adam juga terpaksa dikejar-kejar oleh aparat Top Up dan dia juga hampir terbakar karena terlalu lama di dunia Top Up. Dengan bantuan Bob, akhirnya Eden dapat menyembuhkan Adam dan dia pun akhirnya kembali menyalakan benih cintanya dengan Adam. Sang sutradara sepertinya ingin mengangkat moral cerita bahwa cinta antardua manusia tidak dapat dipisahkan, meski antara dua dunia dengan gravitasi yang berbeda. Namun sayangnya, plot yang awalnya tampak menarik itu terlalu banyak jatuh kepada klise percintaan antara Adam dan Eden. Padahal, tidak ada penelusuran yang mendalam mengenai latar belakang Adam dan Eden, bahkan topik dua dunia yang berbeda gravitasi yang sebenarnya sangat menarik untuk didedah lebih mendalam, hanya ditampilkan sekenanya seperti latar belakang. Begitu pula dengan akhir kisah ini yang sangat khas Hollywood yang hanya ingin menampilkan akhir yang bahagia, sehingga penonton bisa saja ada yang beranggapan bahwa mungkin masih lebih baik membaca kisah Romeo Juliet yang telah ditulis berabad-abad yang lampau. Secara keseluruhan, film ini gagal mengintegrasikan secara baik unsur-unsur romantisme, dunia fantasi, serta sains-ilmiah yang sebenarnya beragam bahan tersebut dapat diolah lebih baik lagi untuk memuaskan kepuasan penonton yang kritis. (*)


Editor : Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026