Tanoker Ajarkan Anak Berkarakter Lewat Permainan

id Tanoker, egrang

Tanoker Ajarkan Anak Berkarakter Lewat Permainan

Kembali ke alam. Itulah yang ingin dikembangkan oleh pasangan suami istri Dr Ir Suporahardjo, MSi dengan Farcha Ciciek, MSi di Tanoker, komunitas belajar di Desa/Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember.

Kemapanan pendidikan dan ekonomi pasangan yang pernah tinggal kota besar, seperti Jakarta dan Yogyakarta, tak mampu menghilangkan kegelisahan Suporahardjo ketika melihat perkembangan anak-anak di desanya yang banyak ditinggalkan orang tuanya sebagai TKI atau TKI.

Suporahardjo mengajak istrinya yang berasal dari Maluku itu untuk "pulang" dan membuat rencana besar untuk anak-anak yang secara psikologis telah yatim piatu karena ketiadaan kasih sayang dari orang tuanya.

Awalnya komunitas itu sebagai bentuk perhatian terhadap anak-anak di Ledokombo dan sekitarnya. Namun ternyata banyak masyarakat dari luar yang meminati untuk datang dan mencoba permainan di tempat itu.

Suporahardjo yang lulusan IPB itu bersama istrinya membuka lahan miliknya untuk tempat bermain anak-anak. Mula-mula dikembangkan permainan egrang yang biasa dibuat dari bambu atau kayu.

Bambu atau kayu dibuat sedemikian rupa sehingga digunakan untuk pegangan dan penyangga kaki. Egrang bisa digunakan untuk berjalan atau bahkan berlari.

"Selama ini banyak aktivis yang fokus pada bagaimana memberdayakan atau membela para TKW, sementara anak-anaknya luput. Padahal mereka itu sangat membutuhkan perhatian kita," kata Ciciek.

Akhirnya dibukalah komunitas Tanoker pada 2009. Tanoker sendiri adalah Bahasa Madura yang berarti kepopong. Kepompong memiliki makna tempat "transit" ulat untuk menjadi kupu-kupu. Bahasa Madura sendiri adalah bahasa sehari-hari masyarakat di Ledokombo yang berjarak sekitar 25 Km dari Jember itu.

Saat ini permainan yang digemari anak-anak itu sudah menjadi festival tahunan di Komunitas Tanoker dan sudah banyak wisatawan asing yang merupakan jaringan dari Ciciek yang meminati tontonan tersebut.

Selain egrang, Tanoker kini juga mengembangkan permainan polo lumpur yang menempati areal sawah yang sengaja dikosongkan. Awalnya sawah tersebut akan dibuat untuk permainan sepak bola, tapi karena anak-anak mengalami kesulitan untuk menggerakkan kaki untuk menendang bola, maka yang memungkinkan adalah permainan polo.

"Ide polo lumpur ini muncul setelah ada syuting Si Bolang di Ledokombo yang salah satunya bermain di sawah. Kami berpikir bagus juga untuk anak-anak agar berani kotor. Kalau ini bukan lumpur bencana, tapi lumpur bahagia," kata Ciciek, aktivis perempuan tersebut.

Ia mengemukakan bahwa pihaknya mengajak anak-anak untuk bermain, bukan belajar. Meskipun demikian, pada hakekatnya banyak pelajaran yang bisa didapat anak-anak dari permainan tersebut, seperti kejujuran, kebersamaan, perhatian dan cinta lingkungan. Intinya adalah menanamkan karakter yang baik untuk anak.

"Kami juga mengajarkan anak-anak untuk memahami perbedaan. Karena itu sudah biasa kalau ke sini banyak orang yang datang dari berbagai latar belakang. Termasuk sejumlah orang asing yang datang ke sini," katanya.

Mengenai cinta lingkungan, dari awal masuk ke areal permainan yang sejuk karena banyak pepohonan dan ditingkahi suara geremicik air sungai itu sudah ditulisi larangan merokok. Meskipun alam itu terbuka, tapi pengelola Tanoker ingin menanamkan pada anak-anak untuk tidak akrab dengan nikotine tersebut.

Selain polo lumpur, pihaknya juga menyediakan sejumlah buku untuk bisa dibaca oleh anak-anak. Anak-anak, khususnya di sekitar Ledokombo biasa datang ke lokasi itu juga untuk bermain musik perkusi. Mereka bermain dengan kreasi sendiri, karena belum ada pelatihnya.

Pada hari Minggu, Tanoker banyak dikunjungi oleh masyarakat, khususnya anak-anak sekolah untuk mencoba berbagai permainan di lokasi itu. Selain permainan, pengelola juga menyediakan guru bagi anak-anak yang ingin belajar matematika atau IPA secara menyenangkan.

"Kami bersyukur karena aktivitas di sini banyak didukung oleh sukarelawan dari mahasiswa dan ada juga guru," katanya.

Untuk datang ke lokasi tersebut biasanya datang menggunakan kendaraan sendiri atau secara berombongan. Belum banyak kendaraan umum dari Kota Jember yang langsung menuju daerah tersebut. (*)

Foto oleh Seno S/Antara
Pewarta :
Editor: FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar