Surabaya (ANTARA) - Seakan arah tendangan sudah terbaca. Emil Audero ( Tinggi 192 cm ) terbang melayang ke samping kiri gawang. Brugghhhh, bola  di blockout dan mendal entah kemana. Menang  ! Pinalti 4 - 2.

Emil cepat-cepat bangun. Lalu berlari ke arah kiri luar lapangan. Pemain lain berlarian kejar Emil. SUGBK ( Stadion Utama Gelora Bung Karno ) bergemuruh seakan mau runtuh. Di Puyung riuh. Sampai jauh. Hingga ke seluruh penjuru Nusantara. Histeria, gembira tak terkira.

Indonesia akhirnya juara. Tragis dan perjuangan yang dramatik.

Indonesia ikut AFF sejak tahun 1996 ( 14 kali ). 6 kali masuk final. 6 kali pulang sebagai pecundang.

Tahun 2000, kalah 1-4 dari Thailand di Bangkok. Tahun 2002,  kalah adu penalti dari Thailand di Jakarta. Tahun 2016,  kalah 2-3 dari Thailand di Bangkok. Tahun 2020, kalah 0-4 dari Thailand lagi.

Indonesia  dijuluki "Raja Tanpa Mahkota ASEAN". Negara dengan kultur sepakbola yg potensial.  Suporter terbanyak, penonton paling fanatik, tapi lemari pialanya kosong. Semalam, 5 Oktober 2026, kutukan itu tamat.

Bukan karena lebih jago. Tapi karena untuk pertama kalinya,  tidak panik saat adu penalti. Ada Emil Audero dan 4 algojo jago.  Diks, Dean James, Baggott dan Pattynama.

28 tahun menunggu. Akhirnya Garuda bukan lagi burung yang terbang tinggi dan jatuh terus. Semalam Garuda mencengkram dan mengangkat piala.

Menang bukan sekadar angka di papan skor. 

Menang adalah penebusan. Ia adalah cara waktu meminta maaf kepada pecinta sepakbola Indonesia yang terlalu lama bersabar dan jantungan.

Semalam, di bawah lampu Senayan yang gemerlap, kita saksikan sesuatu yang lebih besar dari sepakbola. Saya melihat seorang anak bernama Emil Audero yang lahir di Mataram Lombok 18 Januari 1997, dibesarkan di Turin Italy, jadi "Superman". Terbang  dan menepis bukan hanya tepis bola. Tapi menepis semua ejekan "Indonesia tak pernah juara AFF."

Di detik itu, saya paham. Emil Audero bin Edi Mulyadi - Antonela Audero bin H Halifah Amin - Hj Baiq Atini Gubuk Punik Puyung, terpanggil naturalisasi untuk pulang back to basic dari zero to hero. 

Saya bangga bukan hanya juara. Bukan hanya karena bisa kalahkan Thailand. Tapi terselip juga rasa bangga  karena NTB kembali berkontribusi ke persepakbolaan nasional. Setelah sebelumnya Junaidi Abdillah ( Ayahnya Habib dan Oby Ampenan Lombok ) pernah mengharumkan nama Indonesia.

Di SUGBK, Senin 5 Okt 2026, John Herdman tuntas jawab janji. Dengan pola 3-4-3 mampu menyerang juga bertahan meski bikin jantung penonton se negeri berdegub kencang. 

Emil Audero ( GK ),  Kevin Diks (C), Luke Vickery, Mitchell Baker, Ole Romeny, Ragnar Oratmangoen, Joey Pelupessy, Calvin Verdonk, Thom Haye, Elkan Baggott, Justin Hubner pertaruhkan segala kemampuan yang dimilikinya.

Sementara Anthony Hudson ( pelatih  Thailand ) dan Saranon Anuin (GK), Nattapong Sayriya, Manuel Bihr, Nicholas Mickelson, Suphanan Bureerat, Sarach Yooyen, Kritsada Kaman, Kakana Khamyok, Chanathip Songkrasin (C), Supachai Chaided, Teerasak Poeiphimai beserta segenap officialnya  akhirnya harus keluar SUGBK dengan lesu, muka kuyu, tertunduk malu.

Yah begitu lah sepak bola. Penuh dinamika dan banyak hal serba tak terduga. Jadi ingat pasang surutnya Era Perserikatan dan Galatama dulu. Pernah bergairah dan meriah, kemudian pudar babak belur lalu kini bangkit lagi.

Ingat H. Agil Ali - alumni "MaFIA" Unibraw yang manajer Persebaya - aktor di balik istilah Sepak Bola Gajah. Jadi ingat stadion Gajayana Malang era pertengahan  1980 an dengan bintang-bintang lapangan Bambang Nurdiansyah, Singgih Pitono, Mekky Tata, Ajie Santosa pemain belakang yang rajin bantu serangan dan kemudian jadi Pelatih Nasional.

Jadi ingat pesepakbola Mafia Unibraw  Samsul Huda ( D3 Sekretaris ), Kiper Didik Pribadi, Alwi Niaga, Gaguk Budiardo dan Restu Adiwiyono negara.

Jadi ingat waktu SMA dulu. Pemain Rudy Williem Keltjes dengan body tinggi besar rambut gondrong datang bermain di Lapangan Malomba Ampenan Lombok. 

Sebut Emil Audero jadi ingat kiper perslobar Anton pegawai PLN NTB yang kurus tinggi langsing ( kutilang ) terbang ringan tangkap bola di udara. Juga jadi ingat Maje, Basah, Bangkit, Akim dan Mono ( Mas Lasmono ) si kancil winger yang 2 bulan lalu meninggal dunia di Kampung Jawa Mataram.

Dari kemenangan semalam alhamdulillah laksana "oase" ditengah kegaduhan, aneka keresahan dan kecemasan sosial politik negeri belakangan ini. 

Yang pasti masyarakat, tukang Ojol, gen Z, Towel hingga Presiden Prabowo - Gibran ( Wapres ) tentu bersyukur dan berterimakasih ke Patriot Garuda. Semua gembira dan  larut dalam haru biru.

Di ruang ganti, Erick Tohir tentu gembira luar biasa. Erik Thohir dalam dialog imajiner dengan Ketum PSSI dan Menteri Pora saya bayangkan akan berkata : 
Alhamdulillah, akhirnya juara AFF Pak. Ini sejarah. Terima kasih untuk semua pemain naturalisasi kita dan pemain lokal yang luar biasa. Tanpa visi besar dan progresif, tidak mungkin ini bisa terjadi.

Ketum PSSI menjawab, betul sekali, Pak Erick. Saya sebagai Ketum PSSI sangat mengapresiasi kerja keras Pak Erick selama ini di tengah kritik dan cacian. Visi Bapak soal naturalisasi itu jenius. Pemain - pemain keturunan itu bukti program pemerintah berhasil.

Pak Erick lalu menjawab.
Wah, terima kasih Pak Ketum PSSI atas pujiannya. Tapi itu juga tidak lepas dari dukungan penuh Bapak Menteri Pora. Anggaran pelatnas, fasilitas, semua lancar berkat  Pak Menteri Pora.

Bapak Menteri Pora lalu menimbali.
Ah Bapak Erick bisa aja dan terlalu merendah. Itu sudah tugas saya. Ngomong - ngomong soal pelatih Herdman, pilihan Bapak tepat sekali.

Spontan Pak Erick merespon. Itu khan 
Pilihan kita bersama, Pak Menteri. Saya ingat waktu itu Bapak sebagai Menpora bilang, "Cari pelatih yang pernah bawa tim medioker jadi juara." Saya langsung kepikiran Herdman yang pernah di kontrak Kanada dan berhasil mengangkat prestasi pesepakbola pria dan wanita Kanada ke pentas dunia.

Menteri Pora nampak kaget. 
Loh, saya bilang begitu ya? Wah, ide saya memang brilliant. Dan Bapak langsung mengeksekusi dengan cepat. Sinergi yang sempurna.

Sampai disini saya lalu tersadar bahwa dialog imajiner ini sesungguh nya boleh jadi  adalah monolog dalam bathin Pak Erick. Yang sejatinya adalah Ketum PSSI sekaligus juga Menteri Pora. Selamat dan terima kasih pak Erick.

Dari perjuangan dramatik ini, perlu dicatat bahwa sesungguh
nya, Garuda itu tidak pernah mati. Dia hanya sedang mengajari kita arti sebuah penantian - sabar menunggu waktu. Menunggu : The Dreams Come True. 

Ciao....Wassalam.

Cafe Rudi - Gedeng Gede

Sambil menunggu kopikopi yg belum kembali.

Selasa : 6.10.26.

 

*) Penulis adalah mantan Sekda Provinsi NTB dan dosen di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)



Editor : Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026