Surabaya (ANTARA) - Tidak semua kabar baik datang dengan gemuruh. Sebagian hadir dalam bentuk angka yang perlahan bergerak turun, nyaris tak terasa, tetapi sesungguhnya membawa dampak besar bagi kehidupan banyak orang.

Di Jawa Timur, angka pengangguran terbuka pada Februari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen. Angka itu memang hanya turun tipis dibandingkan 3,61 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, di balik penurunan yang tampak kecil tersebut, terdapat cerita tentang ratusan ribu orang yang berhasil masuk ke pasar kerja, keluarga yang memperoleh sumber penghasilan, serta roda ekonomi yang bergerak lebih stabil.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk bekerja di Jawa Timur mencapai 24,25 juta orang atau bertambah sekitar 388 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Tingkat partisipasi angkatan kerja juga meningkat menjadi 74,78 persen. Bahkan dalam lima tahun terakhir, tingkat pengangguran terbuka Jawa Timur terus turun dari 5,17 persen pada 2021 menjadi 3,55 persen pada 2026.

Capaian itu membuat Jawa Timur memperoleh penghargaan sebagai daerah dengan kinerja terbaik dalam penurunan tingkat pengangguran di wilayah Jawa dan Bali. Penghargaan tentu penting sebagai bentuk pengakuan. Namun yang lebih penting adalah membaca apa yang sebenarnya terjadi di balik angka tersebut.

Penurunan angka pengangguran sering kali dianggap sebagai indikator keberhasilan pembangunan ekonomi. Anggapan itu tidak sepenuhnya keliru. Ketika semakin banyak orang bekerja, daya beli masyarakat meningkat, konsumsi rumah tangga tumbuh, dan aktivitas ekonomi bergerak lebih dinamis.

Hubungan antara penurunan pengangguran dan penurunan kemiskinan juga terlihat cukup jelas di Jawa Timur. Pada saat tingkat pengangguran turun, angka kemiskinan ekstrem provinsi ini juga menyusut hingga 0,29 persen pada 2025, jauh di bawah rata-rata nasional sebesar 0,85 persen.

Artinya, lapangan kerja masih menjadi instrumen paling efektif untuk mengurangi kemiskinan. Bantuan sosial penting sebagai penyangga, tetapi pekerjaan yang layak memberikan jalan keluar yang lebih berkelanjutan.

Ketika seseorang memperoleh penghasilan tetap, ia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memiliki kesempatan meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan masa depan keluarganya.

Namun, keberhasilan menurunkan pengangguran tidak boleh membuat kita berhenti pada rasa puas. Sebab, tantangan ketenagakerjaan saat ini tidak lagi sekadar soal jumlah pekerjaan, melainkan kualitas pekerjaan itu sendiri.


Ruang tersisa

Di balik capaian yang membanggakan, terdapat pekerjaan rumah yang tidak kecil. BPS mencatat sekitar 64,44 persen pekerja di Jawa Timur masih berada di sektor informal. Mereka adalah pedagang kecil, pekerja lepas, pengemudi, buruh harian, dan berbagai profesi lain yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.

Sektor ini terbukti tangguh, terutama saat krisis. Namun di saat yang sama, pekerja informal umumnya menghadapi keterbatasan perlindungan sosial, kepastian pendapatan, dan jenjang karier.

Di sinilah tantangan baru muncul. Pengangguran memang menurun, tetapi sebagian besar pekerjaan yang tercipta belum sepenuhnya memberikan rasa aman bagi pekerja.

Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Jawa Timur. Banyak negara berkembang menghadapi persoalan serupa. Pertumbuhan ekonomi mampu menciptakan lapangan kerja, tetapi belum tentu menghasilkan pekerjaan yang produktif dan berkualitas tinggi.

Karena itu, ukuran keberhasilan ketenagakerjaan pada masa mendatang perlu diperluas. Bukan hanya berapa banyak orang yang bekerja, tetapi juga bagaimana kualitas pekerjaan tersebut. Apakah upahnya layak. Apakah ada perlindungan kesehatan. Apakah pekerja memiliki kesempatan meningkatkan keterampilan. Dan apakah pekerjaan itu dapat bertahan dalam jangka panjang.

Tantangan lain muncul dari perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Otomatisasi, kecerdasan artifisial, dan digitalisasi mengubah kebutuhan dunia kerja dalam waktu singkat.

Pekerjaan yang banyak dibutuhkan hari ini bisa jadi tidak lagi relevan dalam beberapa tahun ke depan. Sebaliknya, profesi yang kini belum populer bisa menjadi kebutuhan utama industri masa depan.

Dalam konteks ini, langkah Jawa Timur memperkuat pendidikan vokasi patut mendapat perhatian. Penurunan pengangguran lulusan SMK menjadi sinyal positif bahwa hubungan antara dunia pendidikan dan dunia industri mulai menemukan titik temu yang lebih baik.

Selama bertahun-tahun, lulusan SMK kerap menghadapi paradoks. Mereka disiapkan untuk bekerja, tetapi tidak selalu sesuai dengan kebutuhan industri. Akibatnya, banyak lulusan yang kesulitan memperoleh pekerjaan meskipun telah memiliki keterampilan teknis.

Kini situasinya mulai berubah. Program magang industri, pelatihan berbasis kompetensi, dan model link and match menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. Bahkan ribuan peserta dari SMK dan lembaga pelatihan telah mengikuti program magang dan peluang kerja luar negeri.

Meski demikian, transformasi pendidikan vokasi tidak boleh berhenti pada kebutuhan industri saat ini. Sistem pendidikan harus mampu membaca kebutuhan sepuluh hingga dua puluh tahun mendatang. Dunia kerja masa depan membutuhkan kombinasi keterampilan teknis, kemampuan digital, kreativitas, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi yang tinggi.

Jika pendidikan hanya mengejar kebutuhan hari ini, maka lulusan akan selalu tertinggal satu langkah di belakang perubahan.


Jalan panjang

Menurunkan pengangguran adalah pencapaian penting. Namun mempertahankan tren itu jauh lebih sulit.

Perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian. Perlambatan ekonomi di berbagai negara dapat mempengaruhi investasi, ekspor, dan pada akhirnya kemampuan industri menyerap tenaga kerja.

Di sisi lain, bonus demografi Indonesia masih terus berlangsung. Setiap tahun jutaan penduduk usia produktif memasuki pasar kerja dan membutuhkan peluang ekonomi yang memadai.

Karena itu, strategi ketenagakerjaan tidak cukup hanya mengandalkan satu sektor. Industri manufaktur tetap harus diperkuat karena memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Sektor pertanian perlu ditransformasi agar lebih modern dan produktif. UMKM harus naik kelas melalui digitalisasi dan akses pembiayaan yang lebih luas. Ekonomi kreatif perlu diberi ruang lebih besar sebagai sumber pekerjaan baru yang sesuai dengan karakter generasi muda.

Investasi juga perlu diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki efek penyerapan tenaga kerja tinggi, bukan semata mengejar nilai investasi. Sebab tujuan akhir pembangunan bukan hanya menghadirkan angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi, melainkan memastikan pertumbuhan itu menciptakan kesempatan yang merata.

Insentif fiskal yang diterima Jawa Timur karena keberhasilannya menurunkan pengangguran dapat menjadi modal awal untuk memperkuat agenda tersebut. Dana itu akan lebih bermakna apabila digunakan untuk memperluas pelatihan kerja, memperkuat inkubasi usaha, mendukung transformasi UMKM, serta mempercepat pengembangan keterampilan digital masyarakat.

Pengangguran yang menurun sejatinya bukan garis akhir, melainkan penanda bahwa sebuah perjalanan sedang bergerak ke arah yang benar. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap pekerjaan yang tercipta mampu menghadirkan kehidupan yang lebih layak, lebih produktif, dan lebih bermartabat.

Sebab ukuran keberhasilan pembangunan tidak hanya terlihat dari berapa banyak orang yang bekerja, tetapi juga dari seberapa jauh pekerjaan itu mampu menyalakan harapan.

Di tengah persaingan global yang semakin ketat, harapan itulah yang harus terus ditenun agar Jawa Timur tidak sekadar menjadi daerah dengan pengangguran rendah, melainkan juga rumah bagi sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, dan siap menyongsong masa depan.



Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026