Malang (Antara Jatim) - Wakil Presiden Boediono menegaskan kemampuan "soft skill dan hard skill" dalam pendidikan harus seimbang untuk membentuk manusia yang utuh.
"Kemampuan 'hard skill' berupa kogniyif atau keterampilan pengetahuan saja tidaklah cukup untuk membentuk manusia yang utuh, sehingga dibutuhkan kemampuan lain, yakni berupa 'soft skill' sebagai penyeimbang," katanya dalam sambutan peresmian gedung pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim di Junrejo, Batu, Senin.
Menurut Wapres, sistem pendidikan di Tanah Air belum memberikan porsi yang cukup untuk pelajaran dan parktik untuk membangun soft skill ini, padahal soft skill harus diajarkan sejak dini dengan pendekatan-pendekatan tertentu.
Oleh karena itu, lanjutnya, kurikulum 2013 ini dirancang secara matang dan disiapkan berbagai perangkat, sistematis yang diantaranya juga untuk mengakomodasi pelajaran dan praktik yang bersentuhan dengan soft skill.
Hanya saja, katanya, kemampuan soft skill terrebut disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan (tidak melebihi beban). "Kurikulum ini memang harus dipersiapkan dan dilaksanakan tahun ini," katanya menegaskan.
Ia mengakui, akhir-akhir ini marak fenomena tawuran antarsiswa, perkelahian antardesa, dan sikap intolerenasi juga tumbuh subur. Padahal, materi pelajaran yang diajarkan juga beragam, sehingga apa yang salah dalam sistem pendidikan di negeri ini.
Padahal, tegas Wapres, pendidikan merupakan parameter utama untuk mengukur kemajuan suatu bangsa yang ditunjukkan melalui SDM yang unggul dan berkualitas.
"Dan, perjalanan bangsa Indonesia ke depan apakah akan semakin baik serta unggul, tergantung pendidikan warganya," kata Boediono.(*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.