Malang (Antara Jatim) - Produksi susu sapi perah di wilayah Kota Batu, Jawa Timur, akhir-akhir ini terus menurun dari rata-rata 22 ton per hari menjadi 20 ton.
Menurut Ketua KUD Batu Ismail Hasan di Malang, Senin, turunnya produksi susu segar tersebut disebabkan banyak faktor, antara lain ketersediaan pakan (rumput) yang terus menipis dan banyak peternak yang terbujuk jagal untuk memotong sapinya.
"Akibat dari banyaknya peternak yang terbujuk jagal ini, populasi sapi perah semakin sedikit. Sebab, banyak sapi perah yang akhirnya menjadi sapi pedaging," katanya.
Sentra sapi perah di Kota Batu selama ini, di kawasan Oro-oro Ombo dan Dusun Toyomerto.
Penurunan produksi susu sapi di Kota Batu tersebut juga ikut menyumbang terjadinya penurunan produksi susu di Jatim.
Ketua II Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jatim Sulistyanto mengakui penurunan produksi susu di Kota Batu juga berpengaruh terhadap produksi susu Jatim yang juga menurun hingga 30 persen.
Produksi susu sapi di Jatim sebelumnya rata-rata mencapai 1.200 ton per hari, namun saat ini hanya mencapai 900 ton karena sejumlah wilayah produsen juga ada penurunan produksi.
Menurut dia, penurunan produksi susu sapi di Jatim sebagai akibat dari berkurangnya populasi sapi perah betina yang produktif dan keengganan peternak untuk memelihara sapi perah karena harga beli susu dinilai sangat murah.
Selain itu, katanya, luas ladang rumput juga terus berkurang akibat beralih fungsi menjadi area perumahan, rumah toko (ruko), dan kawasan industri serta perkantoran.
Untuk menggairahkan kembali animo peternak sapi perah, pihaknya berupaya memberikan bantuan kredit lunak berupa bibit sapi perah kepada peternak.
"Kami bersama KUD, pemerintah kota dan kabupaten, provinsi serta kelompok tani, mengusulkan pada pemerintah pusat untuk menaikkan harga beli susu dari peternak," katanya.
Kebutuhan susu segar dalam negeri, diperkirakan mengalami pertumbuhan hingga 6,5 persen atau sekitar 3,5 juta-4 juta matrik ton, namun yang bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri sekitar 25-30 persen, sehingga sisanya harus impor.(*)
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026