Bamako (Antara/AFP) - Pertempuran baru meletus pada Sabtu di utara Mali antara etnis Tuareg dan kelompok bersenjata tak dikenal, kata sumber-sumber keamanan kepada AFP.
Ini adalah aksi kekerasan terbaru yang di bangun dari kampanye dipimpin Prancis yang mendorong munculnya pejuang-pejuang garis keras di kota-kota besar.
Gerakan Pembebasan Nasional Tuareg Azawad (MNLA) berjuang terhadap apa yang satu sumber katakan "tampaknya para pejuang Arab" di dekat kota utara Tessalit, di mana pelaku bom mobil bunuh diri menewaskan tiga orang pada Jumat.
Kelompok gerilyawan yang berkaitan Al Qaida, Gerakan untuk Keesaan dan Jihad di Afrika Barat (MUJAO), Sabtu mengaku bertanggung jawab atas pemboman di In-Khalil dekat Tessalit, mengatakan mereka secara khusus menargetkan MNLA, yang telah bekerja sama dengan pasukan Prancis untuk mengusir gerilyawan dari utara Mali.
"Seluruh serangan bom mobil terhadap unsur-unsur MNLA di zona In-Khalil, yang MUJAO berkomitmen untuk mengejar jihad melawan kafir," kata juru bicara kelompok Adnan Abu Walid Sahraoui dalam satu pernyataan yang dikirim kepada AFP di Bamako. (*)
Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.