Kalau saja lokasi penggerebekan yang dilakukan petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) tidak di rumah Raffi Akhmad, mungkin beritanya tidak seheboh sekarang. Operasi ini mendapat porsi pemberitaan besar karena si pemilik rumah adalah artis dan yang ada di dalamnya saat penggerebekan juga ada sejumlah figur publik. Mereka adalah artis dan seorang politisi Wanda Hamidah. Tak apalah, karena dengan porsi pemberitaan yang heboh itu, kita kembali diingatkan akan bahaya besar yang terus mengincar bangsa ini untuk dibawa pada kehancuran, terutama generasi mudanya. Selama ini masyarakat lewat media hanya sering diingatkan oleh bahaya korupsi yang dilakukan oleh pejabat atau elit politik. Satu lagi bahaya yang sesekali mendapatkan porsi besar adalah terorisme, ketika ada penangkapan yang dilakukan oleh Densus 88 Polri. Suatu ketika mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi mengemukakan bahwa bangsa ini dikeroyok oleh ideologi transnasional dari Timur dan Barat, di antaranya syiah, wahabi, khawarij, hizbut tahrir, mujahidin, ihwanul muslimin, kapitalisme, liberalisme, dan sebagainya. Namun demikian, sejatinya, bangsa ini tidak hanya dikepung dari timur dan barat, melainkan dari utara selatan dan atas bawah. Begitu kompleks persoalan bangsa ini, mulai dari korupsi yang ibarat sebuah pohon menjalar dari akar hingga ke ujung daun, dari tingkat bawah hingga tingkat yang tinggi. Belakangan muncul kasus perkosaan terhadap anak-anak yang justru dilakukan oleh orang terdekat yang seharusnya menjadi pelindung korban. Ibarat teori pencet balon, satu sisi dipencet, di sisi lain langsung menggelembung. Persoalan korupsi mendapatkan porsi besar untuk "dipencet" atau diselesaikan, persoalan lain langsung menggelembung. Banyak orang menilai bahwa persoalan narkoba sebetulnya tidak kalah gawatnya dibanding dengan kasus korupsi. Tak bermaksud menyalahkan atau berburuk sangka pada bangsa lain, narkoba bisa menjadi "senjata senyap" yang ampuh untuk penjajahan. Narkoba bisa menghancurkan suatu bangsa, apalagi jika para pengedar dan bandarnya mengincar generasi muda. Suatu bangsa akan menjadi tak berdaya jika satu generasi saja dari kaum mudanya dibuat koplo karena kecanduan narkoba. Kamus Bahasa Indonesia menjelaskan kata "koplo" sebagai "dungu". Dungu artinya; sangat tumpul otaknya, tidak cerdas, bebal dan bodoh. Tak perlu menggunakan senjata untuk melumpuhkan satu negeri. "Penjajahan" gaya baru ini tak akan mendapatkan kecaman atau perlawanan dari masyarakat internasional karena bahanya sangat laten. Penjajahan itu tidak selalu dilakukan oleh bangsa satu terhadap bangsa lainnya. Panjajahan dengan narkoba ini bisa dilakukan oleh sekelompok orang dengan kepentingan uang dan keserakahan. Karena itu, masyarakat, termasuk media massa dituntut untuk memberikan perhatian besar pada kasus narkoba ini, terutama pada proses hukum yang melibatkan para bandar dan pengedar. Tak hanya di tingkat penyidik kepolisian pengawasan terhadap kasus narkoba itu diberikan, tapi juga di pengadilan, sebagaimana perhatian terhadap kasus korupsi. Kalau selama ini koruptor yang divonis rendah mendapatkan reaksi luas, vonis untuk para bandar dan pengedar juga harus digegap-gempitakan agar para penegak hukum tidak bermain-main dengan kasus ini. Di tingkat pencegahan, para orang tua, komunitas atau lembaga-lembaga pendidikan juga harus memberikan perhatian penuh pada masalah ini. Ini karena para korban pengguna narkoba tidak saja menyerang anak-anak dari keluarga bermasalah. Keluarga harmonispun bisa menjadi ladang para pedagang narkoba ini. Sementara Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Saleh Partaonan Daulay mendesak BNN untuk menangkap pengedar dan bandar besar narkoba. "Selama ini, kelihatannya BNN masih fokus pada upaya penangkapan para pemakai, sementara bandar dan cukong-cukongnya masih bebas berkeliaran. Tidak heran bila narkoba masih banyak beredar di masyarakat," katanya di Jakarta, Senin. Saleh menyatakan apresiasinya atas keberhasilan BNN menangkap para pemakai narkoba. Namun, dia menyayangkan keberhasilan tersebut belum diiringi dengan keberhasilan untuk menangkap para pengedar dan bandar besar narkoba sehingga peredarannya masih marak Indonesia. Menurut dia, upaya perang terhadap narkoba akan sia-sia jika bandar dan pengedarnya tidak bisa diringkus. Seharusnya, kata dia, target operasi BNN diutamakan untuk menangkap bandar dan pengedarnya. "Bagaimanapun juga, para bandar dan pengedar itulah yang merusak moral dan masa depan generasi muda," katanya. Saleh mengatakan peredaran narkoba sudah sangat mengkhawatirkan. Menurut dia, narkoba pada zaman dahulu hanya beredar di kota-kota besar dan dikonsumsi oleh kalangan menengah ke atas. Namun, saat ini narkoba juga sudah beredar di kota-kota kecil dan dikonsumsi oleh kalangan menengah ke bawah. Jumlah pemakainya pun semakin meningkat dari hari ke hari. (*)


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026