Pacitan - Tiga akses jalan (jalur) provinsi di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, diidentifikasi sebagai daerah penuh "jebakan" karena banyak titik-titik rawan longsor yang sewaktu-waktu bisa membahayakan pengguna jalan, terutama selama musim hujan. Sinyalemen bahaya pada sepanjang tiga ruas jalan provinsi itu diungkapkan Kepala UPT Binamarga Provinsi Jawa Timur di Kabupaten Pacitan, Budi Wahyu Priyono, Senin. "Ada sekitar 70 persenan dari total 98 kilometer jalur provinsi di Pacitan yang rawan longsor," ucapnya saat dikonfirmasi wartawan mengenai kesiagaan bencana di jalaur antarkota-antarprovinsi di daerah tersebut. Tiga akses transportasi darat yang disebut memiliki kerawanan tinggi bencana longsor tersebut masing-masing adalah ruas Pacitan-Ponorogo, Pacitan-Trenggalek, dan Arjosari-Nawangan yang merupakan jalur alternatif Pacitan-Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng). Sementara sisanya yang sekitar 29,4 kilometer potensi longsornya kecil karena sudah diplengseng oleh warga maupun UPT Bina Marga. Jalur provinsi yang telah dinyatakan berstatus "aman" tersebut mayoritas berada di wilayah kota Pacitan, sementara lainnya memiliki potensi longsor cukup tinggi karena berada di jalur antara tebing dan jurang. Mengantisipasi potensi longsor yang mnyebar di hampir semua rusa jalur lalu lintas antarkota-antarprovinsi tersebut, pihak UPT Binamarga Jatim sejak beberapa pekan terakhir terus menyiagakan tiga unit alat berat jenis "whell loader" di tiga titik ruas jalan, yakni di Pacitan hingga batas Ponorogo, Arjosari hingga Nawangan, dan Pacitan hingga Kecamatan Ngadirojo. Penyiagaan alat-alat berat itu untuk mempercepat proses evakuasi tanah longsor yang menutup jalan, sehingga diharapkan arus lalu lintas antarkota dan provinsi tidak terganggu terlalu lama. "Upaya semacam ini yang sementara bisa kami lakukan, kalau untuk membuat plengsengan biayanya terlalu besar," jelasnya. Pantauan ANTARA di Pacitan, terkecuali jalur alternatif yang menghubungkan Kabupaten Pacitan dengan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah melalui Kecamatan Nawangan, kondisi jalan Pacitan-Ponorogo maupun Pacitan-Trenggalek saat ini sudah cukup baik. Meski belum semuanya, mayoritas badan jalan telah diperlebar dan kulit aspal telah diperbaiki. Namun, hal itu belum cukup meminimalisasi potensi ataupun ancaman longsor karena tiga jalur/jalan provinsi tersebut sebagian besar berada di pinggiran tebing dan jurang. Potensi longsoran semakin tinggi lantaran kondisi tanah yang labil, berongga, dan belum diplengseng, sehingga ketika intensitas curah hujan meninggi, maka ancaman longsor kian besar. Tanah yang telah diguyur air hujan ini biasanya tak mampu menahan kikisan air secara terus menerus. "Nantinya tanahnya pasti akan ada yang rontok, dan itu membahayakan pengguna jalan di bawahnya," kata David, warga setempat yang berprofesi sebagai wartawan di sebuah koran harian nsional.(*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026