Kerajinan batu alam asal Pacitan, Jawa Timur, tidak hanya disukai pasar dalam negeri dan mampu menembus pasar luar negeri.

Pemilik kerajinan batu "OG Jewellry" Pacitan, Istianah mengatakan usaha yang ditekuninya sejak 2014 hingga sekarang ini terus berkembang. Bahkan, ia punya banyak pelanggan.

"Sekarang di 2025 ini ingin bisa ekspor. Di tahun ini juga ikut pameran di Jakarta Trade Expo Indonesia 2025 yang mempertemukan dengan buyer," katanya saat dikonfirmasi, Senin.

Ia mengatakan, kerajinan tangan dari batu khas Pacitan, masih digemari hingga kini. Hal itu terbukti saat pameran pameran dagang internasional Trade Expo Indonesia (TEI) ke-40 tahun 2025, yang juga diikutinya.

Dalam pameran itu, kata dia, selain diikuti dari UMKM binaan BI Kediri, juga banyak dari UMKM lainnya di seluruh Indonesia. Termasuk untuk kerajinan tangan dari batu alam.

Dirinya bersyukur dalam kegiatan tersebut, bertemu dengan banyak pembeli termasuk dari India, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat dan berbagai negara lainnya. Bahkan, mereka juga serius dengan memesan barang.

Ia menyebut, pembeli dari Amerika Serikat memesan hingga 100 barang. Ada juga dari sejumlah negara lain yang juga masih melihat katalog produk yang dikeluarkannya. 

"Kami bertemu dengan pembeli dari Amerika Serikat. Dia mengatakan produk saya akan dipasarkan secara daring di Amerika. Kalau yang dari India akan dipajang di butik sebab produk tersebut tidak dibuat massal dan merupakan karya seni," kata dia. 

Dirinya mengaku terbantu dengan fasilitasi BI. Program pendampingan telah diberikan sejak 2022 hingga kini.

Dalam program pelatihan yang dilakukan, BI memberikan pendampingan tentang pengiriman barang untuk ekspor, pembuatan profile produk, membuat market place.

Selain itu, UMKM juga dibekali pelatihan membuat  surat penawaran lewat email, sehingga sangat membantu untuk lebih meyakinkan diri menawarkan produk ke pasar internasional.

Ia menyebut, selama ini produk yang dibuatnya sudah banyak yang dijual ke luar negeri. Namun, mayoritas masih jejaring untuk produk misalnya ke Hong Kong, Australia, Jepang, Singapura, hingga Malaysia.

Sedangkan yang benar-benar bertemu buyer secara langsung ia dapatkan saat ikut serta dalam pameran dagang internasional Trade Expo Indonesia (TEI) ke-40 tahun 2025.

ia pun optimistis bisa memenuhi permintaan buyer. Saat ini, dirinya dibantu oleh lima orang pekerja. Setiap bulan bisa menghasilkan sekitar 300 produk.

Namun, dengan adanya permintaan yang cukup banyak, ia mempertimbangkan untuk menambah jumlah karyawan. 

"Di rumah ada lima orang yang membantu. Kalau dari sana ada yang meminta untuk lebih banyak, tambah karyawan. Kami tetap optimistis," kata dia.

Ia pun tak ragu akan kehabisan stok bahan baku, sebab di Pacitan banyak sekali bebatuan dengan beragam model dan menarik. 

Sementara itu,  Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri Yayat Cadarajat menjelaskan BI juga telah melakukan kegiatan Karya Kreatif Mataraman (KKM) 2025, sebagai fasilitasi untuk produk UMKM. 

Ia menjelaskan, sepanjang Januari hingga Juni 2025, BI Kediri telah memfasilitasi business matching senilai lebih dari Rp6,1 miliar untuk ekspor komoditas unggulan seperti gula aren, kopi, dan nira kelapa. 

Di saat yang sama, lima UMKM binaan berhasil mengantongi pembiayaan perbankan senilai Rp4,57 miliar untuk pengembangan keripik gadung, jamu kemasan, bawang merah, hingga beras. Sebuah langkah konkret mendorong UMKM naik kelas.

“Produk-produk lokal seperti wastra, kopi, dan kerajinan tangan ini adalah potensi ekspor. Mereka bukan hanya membawa budaya, tapi juga nilai ekonomi,” kata Yayat saat itu. 

Pewarta: Asmaul Chusna

Editor : Astrid Faidlatul Habibah


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2025