Oleh Asmaul Chusna
Kediri- Suara "dodokan" pertanda dimulainya lakon wayang tegas terdengar, yang mengalun indah dengan notasi pasti. "Eee lae lae, mbergegek ugek ugek sadulito, mbel mbel" (tenanglah, jika ada sesuatu tidak usah terburu buru). Sebait kata dari tokoh pewayangan Semar membahana di Balai Kota Kediri, Jawa Timur.
Usianya masih dini, sembilan tahun. Namun, anak yang kini masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar itu piawai membawakan lakon wayang. Natan Teofilus Pramudya Dewa Brata, disematkan sebagai dalang terkecil dalam ajang lomba dalang cilik.
Menggunakan jarit yang dipadu beskap, belangkon, epek, serta sabuk timang, anak yang masih menimpa ilmu di SD Katolik Santa Maria Kediri ini memukau penonton. Bukan hanya usianya yang masih dini, cara memainkan wayangya mampu menghipnotis mereka, "gecol" alias lucu.
Dengan lakon "Petilan Dewo Ruci" yang mengisahkan tentang Werkudoro berguru pada Pandito Durno mempelajari aji "Sastro jendro hayuningrat" atau ilmu kesempurnaan hidup mengantarkan dirinya menjadi dalang paling cilik dan juara.
Suwono (45) ayah Natan menyebut kegemaran anaknya pada wayang sudah nampak sejak kecil. Ia sangat senang jika diberi hadiah wayang dan sering bermain. Saking senangnya, anak keduanya itu bahkan bisa menghabiskan waktu seharian hanya untuk bermain wayang.
"Saya tidak pernah memintanya untuk mempelajari wayang. Ia sudah sejak kecil memang suka," ucapnya.
Darah seni rupanya memang mengalir di darah Natan. "Canggahnya" adalah seorang penari gambyong yang cukup terkenal dari Kabupaten Kediri. Kakeknya juga seorang dalang tersohor yang sudah malang melintang di berbagai daerah.
Suwono sendiri merupakan Sarjana Karawitan dari Surakarta. Walaupun bukan dalang yang cukup terkenal, ia bisa memainkan lakon wayang dengan menarik. Rupanya, itu yang membuat Natan, anaknya ikut tertarik pada dunia pewayangan.
Berbekal darah seni dan dukungan keluarga, Natan tidak henti-hentinya belajar dalang. Koleksi wayang di rumah juga mendukung. Saat ini, ada sekitar 60 wayang dengan berbagai sosok.
"Kalau koleksi lengkap tokoh pewayangan sampai 150," ujar pria yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Kota Kediri itu.
Mengikuti kompetisi dalang cilik, lanjut Suwono memang baru dilakoni Natan kali ini. Namun, beberapa lomba kebudayaan seperti karawitan, macapat, sudah Natan ikuti. Hanya saja, nasib belum berpihak baik padanya. Suaranya yang masih belum tertata, membuatnya tersisih dan harus puas dengan menjadi peserta.
Kesukaan pada budaya rupanya juga mengalir pada semua anak turun Suwono. Hendri Kristianto Pradana Pujasena (16) rupanya juga senang memainkan tokoh pewayangan. Remaja anak pertama hasil pernikahan dengan istrinya, Qori (41) yang baru saja lulus dari SMP Santa Maria Kediri ini juga aktif mengikuti berbagai ajang kebudayaan, seperti lomba dalang.
Walaupun di tubuh dua anaknya mengalir kental darah seni dan sudah nampak sejak dini, Suwono mengaku tidak ingin memaksakan kehendak anaknya.
"Saya tidak pernah memaksa mereka mau jadi apa. Saya biarkan apa yang mereka mau, sepanjang itu positif," tuturnya.
Natan yang ditemui terlihat sangat senang dengan aksinya di panggung. Ia merasa puas, walaupun harus mementaskan lakon Semar dengan tokoh wayang lainnya sampai setengah jam lamanya. Baginya, itu adalah pengalaman yang luar biasa, karena bisa tampil di depan masyarakat umum.
"Saya suka wayang. Setiap hari ya bermain dengan wayang," kata bocah ini polos.
Natan mengatakan, di rumah tersedia banyak koleksi wayang lengkap dengan peralatan musiknya, di antaranya seperangkat gamelan. Alunan musik yang keluar dari perangkat gamelan itu membuatnya terhipnotis, seakan enggan untuk pergi.
Ia memang menyukai wayang sejak kecil, walaupun ayahnya tidak pernah memaksanya untuk menjadi dalang. Ia pun, ketika besar nantinya ingin menjadi dalang.
"Saya suka dengan Dalang Enthus (dalang dari Pekalongan, Jawa Tengah). Saya ingin jadi dalang," katanya dengan senyum.
Ia pun akan berusaha keras untuk belajar menjadi dalang. Bersama kakaknya yang juga penggemar wayang, bocah yang suka dengan grup band "The Changcuters" ini ingin meraih mimpinya.
Rupanya ia tidak begitu tertarik dengan berbagai alat dengan teknologi canggih seperti "video game". Padahal, anak seusinya paling suka dengan berbagai alat dengan teknologi canggih dan menghabiskan waktu di depan layar televisi bermain "playstation".
Resah
Justru kalangan tua yang kemudian semakin merasa resah dengan budaya yang membuat kalangan muda semakin terlelap dalam dunianya sendiri, melupakan budaya sendiri.
Seperti yang diungkapkan oleh Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kota Kediri Yusuf Budi Santoso. Maraknya kemajuan teknologi ini disinyalir sebagai upaya penghancuran generasi bangsa.
"Ini skenario besar untuk menghancurkan generasi muda. Masuknya budaya asing yang cukup deras tanpa filter sedikit saja, bisa merusak mereka," tukasnya, prihatin.
Padahal, lanjut pria yang juga mengajar di sebuah SMPN Kota Kediri itu animo masyarakat pada budaya Jawa cukup tinggi. Bahkan, dukungan semangat dan dorongan dari pemerintah juga nampak.
Ia menilai, semua pihak harus terlibat untuk menyaring budaya asing yang justru merusak budaya asli bangsa ini baik itu masyarakat maupun pemerintah. Kesamaan visi untuk menunjukkan identitas bangsa yang berbudaya harus dimunculkan sebagai filter pada urban.
Salah satu hal yang bisa dilakukan dengan rutin menggelar parade budaya, seperti lomba dalang, nembang mocopat, karawitan, dan berbagai budaya asli bangsa ini. Jangan sampai, budaya sendiri, seperti yang baru terjadi klaim tari Tor Tor
dari Tapanuli, Sumatera Utara.
Saat ini, jumlah anggota dari Pepadi Kediri 20 orang yang terdiri dari senior dan junior. Diharapkan, budaya yang pernah dijadikan Wali Songo untuk menyebarkan Agama Islam ini tidak tergeru dengan zaman, kalah dengan teknologi canggih.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri Gunawan Setyo Budi mengatakan pemerintah mengapresiasi dan terus berusaha untuk melestarikan terutama untuk kesenian dan kebudayan. Salah satu caranya, dengan mengadakan kegiatan lomba-lomba itu.
"Di masing-masing sekolah juga ada kegiatan ekstra untuk seni dan budaya. Kami berharap, melalui generasi muda kebudayaan Indonesia ini tetap lestari," tutur Gunawan.(*)
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2012
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2012