Pamekasan - Warga Kelurahan Lawangan Daja, Pamekasan mengembangkan bahan bakar alternatif berupa briket arang tempurung kelapa.
"Saya sudah menekuni usaha ini sejak lima tahun lalu," kata produsen briket arang tempurung kelapa , Rusnawati, di Pamekasan, Jatim, Jumat.
Awalnya, Rusnawati mengembangkan usaha ini atas permintaan teman-temannya di Surabaya yang meminta pasokan arang dari bekas tempurung kelapa.
Lama-kelamaan permintaan briket arang dari tempurung kepala itu kian meningkat, sehingga usaha Rusnawati kemudian terus berkembang hingga akhirnya mampu menampung sekitar 10 orang tenaga kerja.
Perempuan ini mendapatkan bahan berupa tempurung kelapa dari para pedagang kelapa yang ada di Pamekasan dengan harga Rp7.000 per sak/karung.
"Biasanya tempurung kelapa itu kan dibuang cuma-cuma. Nah, saya beli lalu saya proses menjadi briket seperti ini," ujar Rusnawwati.
Proses pembuatan tempurung kelapa basah menjari briket arang ini memakan waktu antara empat hingga lima hari, bergantung pada kondisi cuaca. Jika cuaca bagus, tidak turun hujan maka proses pembuatan terkadang hanya empat hari, bahkan bisa tiga hari.
Menurut dia, saat ini dirinya justru kekurangan bahan baku karena terlalu banyaknya pesanan dari Surabaya.
"Di Surabaya sana, arang dari tempurung kelapa ini masih diproses lagi dan kemudian diekspor ke luar negeri," terang dia.
Dalam sebulan, Rusnawati hanya mampu memasok sekitar 1 kwintal briket arang batok kelapa saja, karena bahan baku yang tersedia kurang mencukupi.
"Kadang saya harus memesan ke Sumenep. Sebab di Pamekasan sudah kekurangan. Di Sumenep kan banyak pohon kelapa dan yang memproduksi nampaknya belum ada," ucap, menjelaskan. (*)
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2012
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2012