Dokter Spesialis Anak dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) Dr dr Teny Tjitra Sari mengemukakan sejumlah gejala kanker yang umumnya terjadi pada anak dan perlu diwaspadai oleh para orang tua.

Salah satunya, kata dia, adalah demam yang berlangsung lama, atau lebih dari dua pekan.

"Kita harus waspada kalau misalnya anak demam lama, kok, nggak sembuh-sembuh, bukan berarti ini pasti kanker, ya, tetapi artinya harus dicari ke arah sana," kata Teny dalam diskusi mengenai kesehatan anak yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.

Selain demam dengan durasi yang panjang, Teny mengatakan benjolan yang tumbuh tanpa sebab juga perlu diwaspadai oleh para orang tua sebagai salah satu gejala kanker pada anak.

Untuk itu, ia mengimbau kepada para orang tua untuk segera melakukan tes ultrasonografi (USG) kepadan anak untuk mengetahui apakah benjolan yang timbul merupakan kanker atau bukan.

Kemudian, Teny menyebutkan para orang tua juga perlu mewaspadai adanya pendarahan pada anak, yang ditandai dengan bercak-bercak pada tubuh anak, mimisan, dan muntah darah.

"Perdarahan itu bisa kelihatan, misalnya muntah darah. Berak darah itu bisa merah, bisa hitam begitu, ya," ucapnya.

"Tetapi kadang-kadang perdarahan di kulit yang namanya ptekie, jadi kayak demam berdarah gitu. Itu kadang-kadang orang itu nggak sadar, kecuali dia sudah banyak gitu," ucapnya.

Untuk itu, Teny mengimbau kepada para orang tua untuk segera memeriksakan anak ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat jika menemukan gejala-gejala kanker pada anak, agar anak segera mendapatkan perawatan medis.

Senada dengan Teny, sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan deteksi dini terhadap kanker merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan masyarakat untuk meningkatkan peluang kesembuhan penyakit kanker.

"Satu yang paling penting, harus deteksi dini. Kalau ketahuannya cepat, 90 persen bisa sembuh. Kalau ketahuannya terlambat, 90 persen wafat," katanya.

Menurut data Globocan tahun 2020, jumlah penderita kanker pada anak (0-19 tahun) sebanyak 11.156 jiwa. Dari angka itu, leukemia menempati posisi pertama dengan 3.880 kasus (34,8 persen), sedangkan kanker getah bening dan kanker otak masing-masing dengan 640 kasus dan 637 kasus (5,7 persen).

Meski demikian, Menkes Budi mengatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2021 menyebutkan kanker anak yang dapat disembuhkan di Indonesia hanya kurang dari 30 persen kasus.

Untuk itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah berupaya meningkatkan layanan skrining dengan melengkapi 10.000 puskesmas di 514 kabupaten/kota di Indonesia dengan alat deteksi dini kanker, sehingga masyarakat dapat melakukan deteksi dini kanker dengan mudah.*

Pewarta: Sean Muhamad

Editor : Abdullah Rifai


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2024