Kediri - Program internet masuk desa yang dicanangkan pemerintah pusat di seluruh Indonesia, termasuk di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, terbengkalai dan bahkan perlengkapannya tidak digunakan. "Seluruh perlengkapan komputer untuk sementara waktu terpaksa disimpan. Hingga kini, belum ada kejelasan tentang pelaksanaan program itu," kata Malik salah seorang penerima program internet masuk desa di Desa/Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Sabtu. Ia mengaku belum mengetahui sampai kapan program itu ada kejelasan. Ia juga telah mengeluarkan banyak uang untuk persiapan lokasi untuk progam tersebut. Malik mengatakan, program itu ia terima sejak Maret 2010. Ia mendapatkan lima unit komputer, satu unit parabola, dan ditambah dengan server atau jaringan. Selain itu, ia juga mendapatkan enam meja dan kursi sebagai tempat komputer itu ditaruh. Ia mengaku menderita kerugian dengan belum adanya kepastian tentang program tersebut. Pascabarang-barang itu turun, ia sudah menyewa sebuah rumah untuk tempat penyewaan internet dengan harga hingga Rp2,5 juta per tahun. Selain itu, ia juga sudah menaikkan daya untuk jaringan listrik di tempat ia menyewa dari semula 900 watt menjadi 2200 watt. "Kalau total, dihitung-hitung semua bisa habis sampai Rp15 juta. Tapi, karena hingga sekarang program itu belum berjalan, jadi tentunya yang ada merugi," ucapnya. Kerugian itu, lanjut dia, adalah dia harus membayar tanggungan listrik. Jika dulu 900 watt pemilik rumah hanya mengeluarkan ongkos hingga Rp30 ribu, karena daya sudah dinaikkan pembayaran juga membengkak hingga Rp87 ribu per bulan. "Saya hanya membayar listrik tanpa ada pemasukan sama sekali. Padahal, dulu harapannya ketika program ini berjalan, setidaknya ada pemasukan. Tapi, karena belum jelas, jadinya harus mengeluarkan uang hanya untuk bayar kontrak rumah yang tidak digunakan," katanya mengungkapkan. Ia juga mengaku, saat ini sudah mencopot papan nama tentang program tersebut. Seluruh perlengkapan, seperti komputer, meja, satelit, serta barang-barang lain ia simpan. Ia juga mengaku tidak berani memanfaatkan komputer tersebut untuk kegiatan penyewaaan sendiri, misalnya membuka warung internet. Ia tidak ingin mencari masalah, karena peruntukan dari komputer itu untuk program internet masuk desa. Di sejumlah kecamatan yang didatangi wilayah Kabupaten Kediri memang juga sudah tidak terlihat adanya papan nama tentang internet tersebut. Bahkan, di sebuah warung internet yang terletak di Kecamatan Gampengrejo, yang dulunya digunakan sebagai tempat program tersebut, juga sudah tidak terlihat lagi papan nama. Di lokasi itu saat ini sudah beralih fungsi menjadi warung internet untuk umum. Sejumlah pengelola warung internet yang saat itu dikonfirmasi tidak bisa memberikan informasi yang jelas. Ia mengaku tidak mengetahui tentang program tersebut dan hanya menjalankan tugasnya untuk berjaga di warung internet. "Kalau di tempat ini, semua komputer diperuntukkan untuk umum dengan tarif hingga Rp2.500 per jam. Kalau masalah komputer untuk program internet masuk desa, saya tidak tahu," katanya dengan menolak menyebutkan nama. Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kediri, Kardiyono mengaku tidak dapat berbuat banyak dengan program tersebut, karena itu dari pusat. Namun, ia mengatakan sudah melakukan pelatihan kepada sejumlah perangkat yang diserahi program itu untuk pengelolaan internet. Jika memang hingga kini belum bisa dioperasonalkan karena belum ada kejelasan dari pusat, ia berharap, pengelola untuk koordinasi terlebih dahulu. "Kami adakan pelatihan, agar mereka bisa menggunakan internet itu. Selain itu, tentunya seluruh perlengkapan tidak bisa ditarik karena sudah diberikan ke desa," katanya. Ia justru berharap, warga bisa memanfaatkan teknologi itu, walaupun saat ini program belum berjalan. Dengan itu, mereka bisa mendapatkan berbagai macam informasi yang diperlukan. Selain meminta tetap memanfaatkan komputer tersebut, Kardiyono juga mengatakan saat ini pemkab sudah mendapatkan dua unit mobil untuk internet keliling. Mobil itu juga bisa dimanfaatkan warga untuk mengakses informasi, karena dilengkapi dengan komputer dan jaringan internet. Pemerintah pusat memang menargetkan pemasangan jaringan internet masuk desa dengan harapan untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Pahun 2009 lalu pemerintah menargetkan dapat menyelesaikan jaringan internet di seluruh desa, sebanyak 32 ribu jaringan dari 72 ribu desa dari rencana yang akan diberi layanan internet dan diselesaikan pada 2010. Pemerintah telah menganggarkan hingga Rp1,4 triliun untuk program itu. Diharapkan, tahun 2010, untuk program desa pintar tersebut dapat diwujudkan. Namun, hingga kini program tersebut tidak jelas dan seluruh perlengkapan terbengkalai. Di Kabupaten Kediri, yang menerima program tersebut adalah seluruh kecamatan, yaitu 36 kecamatan. Dari 344 desa yang ada di 36 kecamatan, hanya 50 desa yang mendapatkan. Mereka menerima satu paket komputer lengkap dengan perlengkapannya, seperti meja dan kursi, serta tenaga komputer. (*)

Pewarta:

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2011