Sejumlah seniman internasional berpartisipasi dalam kegiatan Kalisat Tempo Dulu 8 dan Pameran Arsip Batuan Berkisah yang digelar oleh komunitas Sudut Kalisat di Kampung Lorsikal, Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada 7-8 Oktober 2023.

"Selain menampilkan bebatuan, pameran arsip Kalisat Tempo Dulu 8 juga melibatkan seniman-seniman lokal dan internasional," kata Ketua Panitia Kalisat Tempo Dulu 8, Hartono, di Jember, Minggu.

Seniman dan komunitas lokal yang terlibat antara lain adalah Windy Wiryawan, Achmad Pandi, Imam Jazuli, dan Rumah Pintar Karangharjo Silo. Sedangkan beberapa seniman internasional turut diundang antara lain Sari Shibata dari Jepang, kolektif Gruppe 19 dari Austria, dan Rose Barnsley dari Australia.

Menurutnya, Kolektif Gruppe 19 terdiri dari seniman Lea Daniella dan Cornel Christian. Pada bulan Juli lalu, kata dia, mereka melakukan perjalanan ke Indonesia dan sempat tinggal di Kalisat untuk bergabung dengan Sudut Kalisat melakukan kunjungan ke gumuk-gumuk di sekitar Kalisat.

"Untuk pameran Kalisat Tempo Dulu, mereka menyumbang beberapa sketsa yang digarap dengan metode plein air," tuturnya.

Begitu juga seniman Rose Barnsley sempat mengunjungi Jember dalam rangka pertukaran di Universitas Jember. Selama kunjungan di Jember tersebut, Rose turut berproses bersama Sudut Kalisat dengan menyusuri sungai untuk mengamati bebatuan dan membuat diskusi mengenai lempeng tektonika yang sama antara Jawa Timur dan Australia.

"Karyanya untuk Kalisat Tempo Dulu 8 berupa sebuah puisi yang dapat ditemukan di bagian depan ruang pameran," katanya.

Ia mengatakan seniman Sari Shibata dari Jepang adalah satu-satunya seniman mancanegara yang belum pernah datang ke Kalisat dan menampilkan sebuah serial karya fotografi yang mencermati fenomena baru yang disebut batuan plastik atau yang belakangan disebut para ilmuwan sebagai plastigomerate.

Karya fotografi yang diberi judul "Anthropocene Plastics" (2023) itu dihasilkan dari sebuah perjalanan di pinggiran pantai Pulau Hokkaido dengan menemukan berbagai bongkahan plastik yang mengeras dan menyerupai batuan terselip di sela-sela karang.

Batuan plastik tersebut dihasilkan dari sampah plastik yang terombang-ambing di lautan, lalu menerima tekanan dan benturan ombak selama puluhan tahun, serta batuan plastik itu bahkan menyatu dengan material lain seperti pasir, kerikil, atau kayu.

"Karya-karya seni tersebut bersanding dengan arsip-arsip bebatuan yang sudah dikumpulkan dari berbagai lokasi, mengantar pengunjung pada pemahaman yang mendalam mengenai proses geologis serta sejarah lingkungan di kawasan Kalisat," ujarnya.

Ia berharap melalui pameran itu pihak komunitas Sudut Kalisat ingin mengajak pengunjung untuk belajar dari bebatuan yang sebelumnya dianggap tak bermakna.

Rangkaian kegiatan Kalisat Tempo Dulu 8 didukung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) Stimulan Kegiatan Ekspresi Budaya.

Berbagai kegiatan yang digelar dalam Kalisat Tempo Dulu 8 yakni diskusi publik, obrolan budaya dengan menghadirkan pembicara seniman asal Jepang Sari Shiba, panggung hiburan, dan pasar kuliner Kampung Lorstkal.
 

Pewarta: Zumrotun Solichah

Editor : Fiqih Arfani


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2023