Festival Kampung Cempluk 2023 yang memasuki usia ke-13 menerbitkan buku berjudul " Bhakta Pradesa" yang berisi karya refleksi dari para pelaku atau pebakti Kampung Cempuk, pebakti kampung dari Jaringan Kampung Nusantara (Japung), para pemerhati dan pemikir kebudayaan kampung, serta berbagai pihak lain.

"Buku ini merefleksikan, bukan hanya Kampung Cempluk, tapi budaya kampung dan kampung sebagai sumber budaya, sumber pengetahuan, sumber peradaban Nusantara," kata Daniel Stephanus, warga Kampung Cempluk, dalam pernyataan tertulis yang diterima di Surabaya, Minggu.

Warga RT 5 - RW 1, Dusun Sumberjo (Kampung Cempluk), Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, itu bahwa buku itu diluncurkan bersamaan dengan gelaran pesta rakyat kampung dan pawai budaya yang digelar selama pada 13-23 September 2023.

Pesta rakyat kampung yang dilaksanakan secara swadana, swadaya dan swasembada tanpa dukungan dana dari Desa Kalisongo atau bahkan dari Pemerintah Kabupaten Malang itu berlangsung meriah.

Warga hanya membutuhkan restu dan perizinan dari pemerintah daerah, dengan dukungan karang taruna, pemuda, PPK dan masyarakat desa.

Sementara itu, perintis pemberdayaan Kampung Cempluk Redy Eko Prastyo menjelaskan pada acara penutupan festival kegiatan itu mendapat apresiasi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang sekaligus membicarakan Program Taruna Budaya.

Diharapkan, tahun depan festival itu bisa kembali terlaksana dengan lebih baik, lebih memberi manfaat dan dampak yang lebih luas lagi, baik untuk kemajuan kebudayaan, kohesi sosial, pelestarian seni budaya, serta kesejahteraan yang lebih adil dan beradab bagi masyarakat Desa Kalisongo serta masyarakat lainnya.

"Kami terus berupaya untuk pemajuan kampung dan budayanya dengan semangat diobong gak kobong, disiram gak teles (dibakar tidak terbakar, disiram tidak basah)," kata Redy, yang juga mahasiswa S3 Universitas Brawijaya Malang tersebut.

Pewarta: Masuki M. Astro

Editor : Fiqih Arfani


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2023