Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur menampilkan kesenian jaran thek dan reog saat menyambut kedatangan ratusan diaspora Jawa dari sejumlah negara di Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa ke daerah itu, Kamis.

Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko beberapa kali menyampaikan kebanggaan dan antusiasme atas para diaspora yang saat ini tinggal di sejumlah negara, seperti Suriname, Malaysia, Singapura, Kaledonia Baru, Afrika, dan Belanda tersebut.

Dengan berstatus warga negara asing (WNA), para diaspora yang umumnya warga keturunan Jawa dan masih memiliki dialek Jawa itu membuat interaksi seakan dengan warga atau keluarga sendiri.

"Ke depan kami berharap ada kolaborasi untuk menciptakan keharmonisan antarnegara," kata Kang Giri, sapaan Sugiri Sancoko.

Menurut dia, kesenian reog dan jaran thek ditampilkan pada kesempatan itu agar dua seni tradisional itu semakin tersiar ke mancanegara.

"Ini merupakan sarana promosi yang baik," katanya.

Selain itu, dirinya mengajak para diaspora untuk menikmati Ponorogo, baik kebudayaan, keramahan warga, suasana daerah dan kuliner.

Apalagi, katanya, secara khusus Pemkab Ponorogo memberikan beberapa dadak merak ke Suriname. Hal itu sebagai bagian dari tutorial latihan agar reog ada di setiap diaspora Jawa.

"Di mana ada orang Jawa ada reog Ponorogo. Reog keren ke depan," kata dia.

Dia menjelaskan para diaspora yang masih memiliki darah Jawa tersebut dijadwalkan melakukan perjalanan ke sejumlah daerah di Pulau Jawa.

Saat tiba di Kabupaten Ponorogo pada Kamis, mereka langsung disambut kesenian jaran thek serta reog Ponorogo.

Salah satu anggota diaspora yang lahir dan besar di Suriname, Poniman Morejo, mengaku senang bisa menginjakkan kaki di kampung halaman.

Ia mengaku bahwa sang kakek sebelum ke Suriname merupakan warga Madiun.

"Mbahku asli Madiun, aku lagi pertama 'iki delok reog' (saya senang bisa melihat reog )," kata Poniran yang saat ini telah menetap di Belanda.

Duta Besar Suriname untuk Indonesia Erick Rahmat Moertabat menyampaikan salam dari Presiden Suriname untuk masyarakat Ponorogo.

Dirinya mengaku takjub dengan berbagai kesenian di Indonesia, khususnya reog Ponorogo.

"Terima kasih untuk sambutnya, saya juga berdarah Jawa, nenek dari ayah orang Yogya, kakek dan nenek dari ibu orang Garut dan Sumedang," katanya.

Pewarta: Destyan H. Sujarwoko

Editor : Fiqih Arfani


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2023