Lima mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat alat pendeteksi wajah (facial detector) untuk memudahkan administrasi bagi pasien di rumah sakit (RS).

Kelima mahasiswa tersebut, adalah Adam Nur Abrori, Bintang Arifin, Nadya Safa Regina Putri, Nur’aini Isnawati, dan Windy Puspika. Mereka telah melakukan survei ke masyarakat dan beberapa fasilitas kesehatan terkait lambatnya proses administrasi.  

“Dari sana, kami mendapatkan ide untuk memaksimalkan teknologi digital untuk memudahkan manusia. Utamanya dalam administrasi di rumah sakit,” kata salah seorang anggota tim, Adam Nur Abrori di Malang, Sabtu.

Selain melakukan survei, katanya, pembuatan alat ini juga dilatarbelakangi masih banyaknya rumah sakit yang mengalami kendala dalam proses administrasi.

Alat yang diberi nama Patient Facial Detector tersebut, dilengkapi dengan komputer dan webcam untuk mendeteksi wajah. Kemudian, diletakkan di bagian depan pendaftaran dan pasien harus scan wajah sebelum melakukan pemeriksaan ke dokter. 

Cara kerja alat ini, lanjutnya, yakni pasien datang dan mengarahkan wajah ke webcam, lalu data diri pasien akan muncul secara otomatis. Data tersebut, meliputi nama lengkap, tempat tanggal lahir, dan nomor rekam medis pasien pada layar komputer dokter. 

Fitur dari scan wajah sebenarnya sudah banyak dijumpai, namun Patient Facial Detector memiliki keunggulan, yakni akan disinkronkan dengan e-KTP, sehingga data diri akan ditampilkan secara lengkap. "Biasanya media seperti ini hanya untuk melakukan cek suhu saja, namun punya kami berbeda," tambah Adam. 

Adam menjelaskan bahwa dalam proses merancang Patient Facial Detector ini dibutuhkan waktu selama beberapa pekan. Sekarang, mereka masih mengembangkan program dan inovasinya agar bisa segera digunakan. 

Meski belum rampung, timnya sudah membuat prototipe yang dipamerkan dalam Pameran Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) Teknik Industri UMM 2023. Inovasi Patient Facial Detector ini rencananya diikutkan dalam berbagai kompetisi. 

"Kami berharap inovasi ini dapat membantu proses dalam mendapatkan layanan kesehatan. Apalagi, selama ini lamanya pelayanan kesehatan seringkali diakibatkan administrasi yang rumit. Oleh karena itu, dengan adanya Patient Facial Detector, proses itu bisa dipersingkat,” ujarnya.  

 

Pewarta: Endang Sukarelawati

Editor : Abdullah Rifai


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2023